Event‎ > ‎RDK on Activity‎ > ‎

Gempita HUT RI Ke-71 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

diposting pada tanggal 18 Agt 2016 07.19 oleh Radio RDK UIN Jakarta

Upacara bendera 17 Agustus sudah layaknya dilaksanakan bagi bangsa Indonesia, sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan terhadap jasa kusuma bangsa ini, dan sebagai bukti nyata nasionalisme yang tertanam pada setiap diri warga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Jakarta Tak jauh berbeda dengan ditempat lain, prosesi upacara 17 Agustus di UIN Syarif Hidayatullah berjalan hikmat. Seluruh petugas upacara termasuk Rektor yang bertindak sebagai komandan upacara membangun suasana semangat kemerdekaan ke-71 NKRI. Upacara dimulai pukul 07.30 WIB bertempat dilapangan Student Center. Petugas pengibar bendera merupakan 10 orang mahasiswa baru yang terpilih dan terlatih oleh UKM Menwa.


Esensi kemerdekaan itu, bagi Bangsa Indonesia ketika dapat kebebasan yang besar untuk mengurus negara dan masyarakat serta merencanakan masa depan negara, dalam arti dari bangsa Indonesia dan untuk Bangsa Indonesia sendiri tanpa campur tangan bangsa manapun. Perayaan kemerdekaan mengingatkan bahwa kemerdekaan yang diperoleh bukanlah hasil belas kasih ataupun hadiah dari penjajah melainkan hasil jirih payah dan ikhtiar para pahlawan. Pesan kemerdekaan untuk mahasiswa dari Rektor Dede Rosyada “berjuanglah untuk menjadi yang terbaik, Indonesia kedepan menjadi 10 negara terkaya di dunia dan dihargai dunia”.

Dalam upacara kali ini, terdapat penganugrahan tanda kehormatan Satya Lacana Karya Satya kepada 28 orang yang terdiri atas Dekan, Wakil Dekan dan seluruh Dosen yang telah setia dan penuh dedikasi mengabdikan dirinya selama 30 tahun.


Suasana kekeluargaan begitu kental ketika upacara usai, para dosen, karyawan, hingga satpam mencoba mencicipi jajanan khas Daerah, mulai dari jagung rebus sampai bubur ketan tersaji rapi di meja masing-masing Fakultas. Sayangnya, Rektor dan para wakil Rektor tidak ikut bergabung dalam acara ini. Hal ini pun menimbulkan kekecewaan dari civitas akademika. Kenapa harus dipisah makannya, akan lebih bagus jika bareng-bareng aja jadi lebih terasa dekat,” ujar Armawati Arbi dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi.

Menjadi Bangsa yang besar dan tangguh merupakan impian setiap warga Negara Indonesia, tetapi impian tinggallah impian jika tidak ada gerakan nyata dari seluruh warganya untuk bahu-membahu membangun negeri. Tidak harus jadi penjabat dalam pemerintahan untuk merubah bangsa kearah yang lebih baik dan sejahtera, cukup jadi profesional dalam bekerja apapun profesinya. Pesan kemerdekaan ke-71 dari duta putra UIN, Nurman Nulhakim “NKRI Harga Mati”.


(oleh: siti fatimah)

Comments