News‎ > ‎Berita Internasional‎ > ‎

Beruang Kutub yang Dijajah Iklim

diposting pada tanggal 13 Des 2017 15.31 oleh Radio RDK UIN Jakarta
Beruang Kutub Mengalami Atrofi Otot - source Sea Legacy

Climate Change alias perubahan iklim yang gaungnya sudah terdengar sejak lama dan selalu menjadi isu nomor satu yang kerap diperbincangkan. Masyarakat yang geram akan hal tersebut, ikut turun ke jalan melangsungkan sederet aksi sebagai bentuk protes atas pengabaian isu ini. Tak sedikit pula yang menyuarakan protesnya melalui jagad maya, baik di jejaring sosial twitter, facebook maupun instagram. Seperti halnya video yang diunggah Paul Nicklen, seorang fotografer Sea Legacy lalu di akun instagramnya, pada Selasa (5/12). Nicklen mendokumentasikan video berdurasi satu menit di mana dalam video tersebut menunjukkan seekor beruang kutub yang bertubuh kurus, sedang mencari makan di dalam bak sampah, di Baffin Island, Kanada.

Foto jurnalis Paul Nicklen dalam instagramnya mengatakan, “Beberapa waktu lalu, saya dan rekan saya Cristina Mittermeier mendokumentasikan seekor beruang kutub yang berkeliaran di kamp Inuit (penduduk asli Baffin Island) sepanjang pantai Baffin Island yang sudah ditinggalkan. Kami dapat memastikan beruang kutub tersebut belum berusia tua, sebab tidak ada luka di tubuhnya,” jelasnya. Nicklen menambahkan, beruang kutub tersebut memang kelaparan, hal ini dapat dibuktikan dari atrofi otot–yakni keadaan di mana otot mengecil karena kehilangan tenaga- yang terlihat di tubuhnya. Menurutnya, satu-satunya tindakan yang mungkin ia dan kawanan Sea Legacy dapat lakukan adalah dengan memvideokan kejadian tersebut. “Orang-orang beranggapan kami menjelajah dengan membawa ribuan pons daging anjing laut atau senapan. Pada kenyataannya, kami hanya menjelajah dengan kamera,” tutur Nicklen.

Lebih dari itu Nicklen melanjutkan, ada alasan mengapa dirinya dan tim tidak menolong beruang kutub tersebut. “Mendekati atau memberi makan beruang yang kelaparan, itu akan sangat ilegal. Lantas dengan menembaknya agar tidak merasakan penderitaan karena kelaparan juga sama ilegalnya. Ketahuilah, kami sempat terpikir untuk melakukan hal-hal tersebut,” ujarnya. Kontributor National Geographic ini juga menyampaikan, salah satu cara mengurangi penderitaan yang dialami beruang kutub tersebut ialah dengan menghentikan penggundulan hutan, pengonsumsian listrik berlebih serta sederet bentuk pencemaran lingkungan lainnya. “Jika Bumi terus menerus menghangat, maka kita akan kehilangan beruang, atau bahkan keseluruhan ekosistem Kutub lainnya,” tegasnya.

Sementara itu mahasiswi Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom), jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Siti Nadhifa ikut bersuara terkait kejadian ini. Menurutnya, segala bentuk tindakan yang bisa ditempuh adalah dengan menyediakan tempat atau ruang untuk tumbuh dan berkembang bagi hewan dan makhluk hidup lainnya, yang habitatnya telah dirusak akibat perbuatan manusia. “Selain itu menurut saya,  World Wide Fund (WWF) juga bisa melakukan langkah  jitu untuk menyikapi persoalan ini. Tetapi yang paling utama adalah adanya kesadaran dari masyarakat dunia, karena sikap apatislah yang justru membunuh mereka,” tandas perempuan penyuka kucing itu.

Faizah Fitriah

Comments