News‎ > ‎Berita Internasional‎ > ‎

Buat Kebijakan Baru, Arab Saudi Beri Kebebasan Wanita Untuk Berbisnis

diposting pada tanggal 22 Feb 2018 12.06 oleh Radio RDK UIN Jakarta

Kerajaan Arab Saudi kini kian membuka kebebasan bagi kaum wanita dalam berbagai hal. Kali ini, kementrian perdagangan dan investasi, mengizinkan kaum wanita untuk berbisnis/ tanpa harus mengantongi izin dari suami atau muhrimnya. Kebijakan ini diumumkan pada Kamis (15/2) sebagai bagian dari sebuah langkah besar untuk memeberikan ruang kebebasan bagi kaum wanita di Arab Saudi. Perubahan ini dilakukan dengan harapan sektor swasta di Arab Saudi bisa terus berkembang.

Melansir dari bisnis Bisnis.liputan6.com, Kementerian Perdagangan dan Investasi Arab Saudi menulis pernyataan dalam situsnya, wanita bisa membuka bisnis sendiri dan menarik manfaat daru layanan e-services milik pemerintah tanpa harus mengantongi izin dari suami atau kerabat pria. Langkah ini juga mengubah kebijakan besar sebelumnya, yang membatasi ruang gerak kaum wanita di Arab Saudi selama berpuluh-puluh tahun. Sebelumnya, wanita di negeri gurun tersebut hanya boleh membuka usaha dengan menganut sistem pengawasan. Artinya, harus ada sosok pria, baik suami, ayah atau adik untuk mengawasi dalam bekerja. Pengawasan ini juga yang akan mengurus berbagai perizinan ke pemerintah ataupun bepergian. Setelah lama menggantungkan pendapatan pada produksi minyak mentah, Arab Saudi kini mengandalkan sektor swasta sebagai sumber pendapatan baru, perluasan pekerjaan bagi kaum wanita merupakan salah satu kebijakan di bawah rencana reformasi Arab Saudi era pasca minyak.

Anggota Gerakan Swara Pemberdayaan Perempuan (GPSP), Budi Santoso mengatakan, harus dipandang dari dua sisi dalam mengulas kebijakan  ini. Jika dipandang dari segi sosial, kebijakan ini sangat bagus untuk kaum wanita dan kebijakan ini merupakan bentuk emansipasi kepada kaum wanita. “Karena jiak wanita diperbolehkan berbisnis, maka ini dapat meningkatkan perekonomian keluarga, bahkan berkontribusi bagi perekonomian negara. Jika dipandang dari segi agama, tentu kaum wanita tetap harus meminta izin kepada pria atau muhrimnya untuk memulai bisnis. Apalagi di Arab Saudi agama Islam menjadi landasan dalam berkehidupan. Intinya, kaum wanita boleh berbisnis. Namun, tetap harus meminta izin dari muhrimnya, serta kesepakatan dari kedua belah pihak dan tetap memperhatikan nilai-nilai agama dan peraturan yang ada,” paparnya.

Lebih lanjut, Budi berharap untuk kaum wanita kedepannya adalah, agar kaum wanita dapat lebih percaya diri dengan potensi diri yang ada. Masyarakat juga harus menyadari bahwa peran dan hak-hak kaum wanita itu sama dengan kaum pria. Jadi jangan ada pengkotak-kotakan serta membeda-bedakan, antara kaum wanita dan kaum pria. Kendati begitu, masyarakat juga tetap memperhatikan nilai-nilai agama dan peraturan yang ada, agar tidak terjadi ketimpangan dan permasalahan lainnya di kemudian hari.

Menurut anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Syahid, Syifana Wirianisa, dirinya merasa kurang setuju jika wanita yang berbisnis tanpa perlu izin dari suami. Menurutnya, setidaknya sudah ada kesepakatan antara suami dan istri untuk berbisnis, karena apabila sudah menikah, semua menjadi tanggungjawab suami. “Tentu saja ini demi kebaikan wanita jika terjadi sesuatu untuk kedepannya. Jadi kaum wanita di sana dan di seluruh dunia bisa mengerti, ada aturan dan syariat yang dibuat bukan untuk mengekang gerak gerik kaum wanita. Namun, untuk menjaga kaum wanita agar tetap indah dan sesuai dengan koridor-Nya,” ujarnya.

(Alya Safira)

Comments