News‎ > ‎Berita Internasional‎ > ‎

Dua Bendungan Air Houston Meluap Akibat Badai Harvey

diposting pada tanggal 30 Agt 2017 16.43 oleh Radio RDK UIN Jakarta   [ diperbarui30 Agt 2017 16.51 ]
Meluapnya air dari 2 bendungan di Houston ke jalan (sumber: okezonenews)

Siapa yang menyangka suatu angin kencang disertai curah hujan tinggi melanda kota Texas. Dapat disebut sebagai sebuah badai yang termasuk tinggi dengan kategori 4, yaitu badai haarvey. Dilansir dari republika.co.id, awal mula badai harvey menyerang Corpus Christi pada Jumat (25/8). 2 bendungan yang cukup besar, mampu menyebabkan penyimpanan volume air yang besar pula. Akan tetapi, badai harvey begitu lama singgah pada 2 bendungan ini, sehingga tak dapat dipungkiri lagi meluaplah air dari 2 bendungan di Houston pada Selasa (29/8). Padahal, tinggi bendungan sudah mencapai 108 kaki atau setara dengan 32,9 meter. 9 korban tewas, ribuan warga memilih untuk mengungsi dan petugas sudah mulai bergerak untuk mengevakuasi warga. Dilansir dari kompas.com, badai harvey kembali bergerak ke arah barat daya, yaitu kota Louisiana.

Salah satu anggota Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) Budiasman Wijaya mengaku, merasa prihatin dengan warga Texas yang mengalami musibah seperti itu, terutama penyebabnya adalah badai yang amat dahsyat. “Seharusnya, pemerintah Amerika Serikat sudah wanti-wanti dengan badai harvey yang akan mengarungi kota Texas, apalagi saat ini badai menyerang daerah Louisiana,” tutur Asman. Asman berharap, seluruh aparat yang bertugas diberi kemudahan dalam menyelamatkan nyawa banyak orang.

Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), Nurprivita Sari menuturkan, dari segi kaca mata bisnis, kerugian yang dapat diprediksi dengan adanya badai harvey yang menyerang hampir seluruh kota Texas, menyebabkan kerugian yang amat besar. “Butuhnya pengobatan dalam hal pencegahan maupun penyembuhan dalam usai badai, tentu menaksir angka yang besar,” ungkap wanita yang kerap disapa Vita. Vita menutup, semoga segera banyak datang bantuan dan badai harvey mereda.

Radhina Rifa Muthiah

Comments