News‎ > ‎Berita Internasional‎ > ‎

Hari Bahasa Ibu Internasional, Ajak Masyarakat Lestarikan Bahasa Asli

diposting pada tanggal 22 Feb 2018 16.36 oleh Radio RDK UIN Jakarta
Source: Google

Hari Bahasa Ibu Internasional dirayakan setiap 21 Februari. United Nations Educational/ Scientific and Cultural Organization (Unesco) mengajak negara yang ada di seluruh dunia untuk ikut merayakan Hari Bahasa Ibu Internasional, sebagai pengingat akan keanekaragaman bahasa adalah aspek penting untuk pembangunan berkelanjutan. Hal ini sesuai dengan tema tahun ini yaitu, “Keanekaragaman Bahasa dan Multilingualisme Diperhitungkan untuk Pembangunan Berkelanjutan”.

Dilansir dari EN.unesco.org, Direktur Unesco, Audrey Azouly mengatakan, bahasa lebih dari sekadar alat komunikasi, tetapi ini adalah kemanusiaan kiat, nilai-nilai diri, keyakinan dan identitas tertanam di dalamnya. Bagi Azouly, keberagaman bahasa mencerminkan kekayaan imajinasi dan cara hidup manusia yang mungkin tak pernah terbayangkan. Unesco telah memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional selama hampir 20 tahun. Dengan tujuan, untuk melestarikan keanekaragaman bahasa dan mempromosikan pendidikan multibahasa berbasis bahasa ibu.

Dosen Bahasa Indonesia, UIN jakarta, Drs. Azwar Sutan Malaka M.Si mengatakan, sangat menyambut baik dengan adanya peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional. Semakin hilangnya keberagaman bahasa di Indonesia, sejatinya menjadi perhatian semua masyarakat. Pria yang telah menulis banyak buku ini juga menjelaskan, sebenarnya, hilangnya keberagaman bahasa di Indonesia merupakan gejala global di mana, bahasa-bahasa yang penuturnya tertindas akan terancam punah. “Kepunahan ini tentunya karena semakin tidak ada penutur atau pemakai bahasanya. Jadi,  peringatan Hari Bahasa Ibu Internasionla ini, sebagai momentum bagi masyarakat untuk mempertahankan bahasa asli yang diperoleh,” ujarnya. Bahasa ibu sebagai bahasa pertama manusia, harus dipertahankan agar kehidupan bangsa Indonesia tidak dijajah oleh bahasa-bahasa bangsa adidaya.

Menurut mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia semester dua, Nelita Indah Islamiah mengatakan, sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) seharusnya berbangga diri, karena Indonesia memiliki bahasa ibu yang jumlahnya sangat banyak. Namun, saat ini, bahasa ibu yang ada di Indonesia banyak yang terancam punah karena banyak terpengaruh dari bahasa dari bangsa lain. “Tak sedikit remaja juga mahasiswa di Indonesia yang mencampuradukkan bahasa daerah dan bahasa Indonesia dengan bahasa asing. Ini terbukti dengan banyak dari mahasiswa yang merasa lebih gaul dan maju jika melakukan hal tersebut,” ungkapnya.

Menurut Nelita, gejala ini terjadi karena sikap cinta terhadap Bahasa Indonesia sangat rendah. Dengan adanya Hari Bahasa Ibu Internasional ini menjelaskan, bahasa ibu harus dilestarikan, dijaga serta setia digunakan agar tidak terjadi kepunahan. Nelita berharap untuk Hari Bahasa Ibu kedepannya agar lebih bisa dimaknai oleh masyarakat, terlebih kepada pemerintah agar dapat menyosialisasikan pentingnya bahasa daerah kepada setiap kalangan masyarakat. “Sebab menurut saya, masih banyak yang belum mengetahui serta mengerti bahasa ibu mempunyai hari peringatan tersendiri. Sudah menjadi kewajiban setiap warga yang berbahasa untuk bangga memiliki bahasa, terutama bahasa ibu,” terangnya. Untuk penggunaan bahasa ibu, Nelita sangat menginginkan adanya perubahan yang signifikan, agar nilai-nilai yang terdapat pada bahasa itu sendiri, dapat berfungsi sesuai dengan ketentuannya sebagai alat pemersatu manusia.

(Alya Safira)

Comments