News‎ > ‎Berita Internasional‎ > ‎

Pengakuan Trump terhadap Yerusalem sebagai Ibu kota Israel, Tuai Kontroversi

diposting pada tanggal 11 Des 2017 17.44 oleh Radio RDK UIN Jakarta

Yerusalem merupakan salah satu kota tertua di Dunia, nama Yerusalem begitu akrab dihati umat Kristen, Yahudi dan Islam seluruh dunia sejak berabad-abad. Kota ini unik, dengan segala peninggalan sejarah yang amat penting bagi umat Kristen, Yahudi dan Islam. Keputusan sepihak Donald Trump pada pidatonya di Gedung Putih, Rabu (06/12) lalu menimbulkan keresahan masyarakat dunia. “Hari ini Yerusalem adalah kursi bagi pemerintahan modern Israel, rumah bagi parlemen Israel, Knesset, rumah bagi Mahkamah agung,” tuturnya.  Pemindahan kedutaan besar Amerika Serikat (AS) dari Tel Aviv ke Yerusalem menjadi langkah awal AS dalam mengakui Yerusalem sebagai Ibu kota Israel, hal ini merupakan aksi pemenuhan salah satu janji kampanye Donald Trump pada para pemilihnya.

Meski begitu, Trump menyebutkan keputusannya menandai dimulainya pendekatan baru untuk menyelesaikan konflik Israel dan Palestina. Dilansir dari kantor berita Reuters, Liga Arab menyatakan akan mengupayakan sebuah resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK PBB) yang menolak pengakuan Amerika Serikat (AS) soal Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Presiden Jokowi beserta pemimpin sejumlah negara mengecam keras kebijakan tersebut, Indonesia menggalang dukungan dari negara Islam lainnya untuk menentang kebijakan sepihak Trump. Hasil penggalangan dukungan tersebut, Organisasi Kerjasama Islam (OKI) akan menggelar sidang di Istanbul, Turki pada 13 Desember 2017 yang akan dihadiri Jokowi.

Muhammad Sarifin, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu politik (FISIP) jurusan Ilmu Politik semester 5 memaparkan, sebagai negara Adikuasa yang sangat berpengaruh di dunia, keputusan Donald Trump dianggap sangat gegabah dan memperkeruh suasana. Sebagai salah satu presiden AS yang sangat kontroversial Trump dinilai kelewat batas, setelah membombardir Palestina dengan berbagai serangan, Palestina kembali harus dikekang hak kemerdekaan negaranya. “Terlihat sekali, dengan power-nya Amerika berusaha mengatur jalannya biduk catur perpolitikan dunia,” tutur laki-laki yang akrab disapa Ipin.

Melihat isu sensitif yang tidak hanya menyangkut soal politik, tapi juga agama, mahasiswa seharusnya mampu menjadi garda terdepan untuk melakukan perubahan. Sebagai agent of change sudah seharusnya mahasiswa berperan aktif menelurkan karya atau mengumpulkan masa, dalam melakukan aksi penolakan putusan Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Mengakui bahwa hal ini merupakan aksi propaganda dan teori konspirasi dari negara Adikuasa yang tak terelakan, Ipin berharap pemerintah Indonesia menjadi barisan terdepan dalam melakukan penolakan terhadap aksi yang juga tergolong pelanggaran HAM ini.

“Sejauh ini usaha pemerintah Indonesia sudah sangat baik dalam merespon isu yang ada, dengan mengirimkan Menteri Luar Negeri dan aktif dalam OKI serta merancang perundingan dalam usaha mendukung kemerdekaan Palestina, adalah aksi yang sangat baik dan positif,” lanjut Ipin. Tak hanya pemerintah, menurut Ipin masyarakat juga wajib berperan aktif mendukung perdamaian dunia, seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 Indonesia. Ipin megaku sangat kecewa terhadap tindakan Trump sebagai pemimpin negara, yang dianggap melanggar HAM dan ketertiban dunia.

Mahasiswa Hubungan Internasional (HI) Universitas Gajah Mada (UGM), Daniel Putra  Wibowo memaparkan, selama ini konflik Timur Tengah Israel-Palestina telah menjadi sumber sentimen berbagai konflik di dunia, khususnya antara dunia Islam dan dunia Barat. Tidak hanya kebencian dan permusuhan, kekerasan kerap kali timbul dimana-mana terpancing sentimen konflik Palestina-Israel.

“Sebagai kepala negara, keputusan Donald Trump dinilai banyak kalangan sebagai keputusan yang reckless, amat berbahaya. Ini salah satu wujud pelecehan yang nyata terhadap upaya perdamaian yang telah diperjuangkan oleh berbagai pihak, para peace warriors, sangat kontradiktif keputusannya adalah wujud pelecehan terhadap berbagai upaya perdamaian Timur Tengah,” kecam laki-laki penyuka warna biru ini.

Menurut Daniel, keputusan Trump yang disebut-sebut menjadi langkah awal pendekatan baru menadamaikan Palestina dan Israel justru akan menimbulkan kemarahan lebih besar dari pihak-pihak yang tidak setuju, bukan lagi menjadi wujud upaya perdamaian, keputusan Trump akan memicu ketidakstabilan terhadap keamanan wilayah Timur Tengah.

“Trump bercanda ya?, alih-alih menyiramkan air malah menumpahkan bensin ke bara api,” ujar Daniel.

Menurut Daniel AS telah melanggar kesepakatan dan resolusi yang diterbitkan Majelis Umum PBB. Daniel menghimbau kepada pemerintah Indonesia, untuk mengakomodasi aspirasi umat Islam Indonesia yang kerap mereduksi aksi anarkis atau hal yang tidak diinginkan dari situasi yang mengecewakan ini. Daniel selalu mendorong pemerintah dan masyarakat agar tidak tinggal diam melihat saudara di Palestina yang makin hari Kemerdekaan HAM dan Negaranya makin dilucuti oleh kaum Zionis.

Syarifatul Adibah

Comments