News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

72 Tahun Mengenang Peristiwa Hotel Yamato

diposting pada tanggal 19 Sep 2017 10.20 oleh Radio RDK UIN Jakarta
Insiden perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato
Source : Planet.Merdeka.com

72 tahun silam tanggal 19 September, rakyat Indonesia mengalami suatu peristiwa yang begitu bersejarah dan tak terlupakan. Peristiwa ini menjadi titik kekuatan rakyat Indonesia, khususnya di Surabaya, akan kekuatan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru seumur jagung. Rakyat Surabaya yang kala itu memiliki jenderal kawakan, yakni jenderal Sudirman, mendapat kabar jika Belanda datang kembali ke Indonesia dengan dibonceng oleh sekutu. Peristiwa itu disebut sebagai “Insiden Hotel Yamato”.

Insiden yang terkenal karena bendera Belanda dirobek oleh tiga pemuda Surabaya, antara lain Hariyono, Sidik, dan Kusno Wibowo, memang menjadi simbol perjuangan rakyat Surabaya selain peristiwa 10 November. Bukan tanpa alasan, Hotel Yamato (sekarang menjadi Hotel Majapahit Surabaya) saat itu dipasangi bendera merah-putih-biru oleh kelompok yang dipimpin Ploegman.

Almuni UIN Jakarta Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), Khairul Ummami, S.Hum beranggapan, tragedi itulah yang menandakan perjuangan rakyat pasca kemerdekaan. “Peristiwa ini yang mengingatkan kita semua tentang Hotel Yamato. Rakyat Indonesia dengan gagah beraninya merobek bendera Belanda, sehingga menjadi bendera Indonesia,” ujarnya.

Selain itu, pria yang kerap disapa Irul ini mengakui jika rakyat Surabaya saat itu sangat gigih mempertahankan kedaulatan. “Padahal, saat itu Belanda datang kembali ke Indonesia dengan dibonceng oleh sekutu atau tepatnya Inggris,” pungkas Irul.

Tanggapan serupa disampaikan oleh mahasiswa UIN Jakarta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) semester 3, Thoriq Taqiyudin. Menurutnya, insiden itulah yang semestinya dikenang oleh mahasiswa di era sekarang. Sebab, peristiwa seperti itulah yang dapat menyadarkan mahasiswa tentang pentingnya menjaga kemerdekaan,” tutur Thoriq.

“Menjaga kemerdekaan sekarang memang tidak seperti zaman dahulu yang melawan sekutu dan penjajah. Melainkan, menjaga kemerdekaan dengan hal-hal positif seperti mencari ilmu dan turut aktif kepada sosial. Semoga kita dapat menjadi lebih baik lagi,” tutup pria berambut ikal ini.

(Fathur Alfarizi)

Comments