News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

73 Tahun Peringati Peristiwa Pemberontakan PETA

diposting pada tanggal 14 Feb 2018 10.44 oleh Radio RDK UIN Jakarta   [ diperbarui14 Feb 2018 10.45 ]
Monumen Supriyadi simbol perjuangan PETA (source: Google)

Dalam sejarah nasional Indonesia, 14 Februari ditetapkan sebagai Peringatan Peristiwa Pemberontakan Pembela Tanah Air  (PETA) di Kota Blitar pada tahun 1945. Pemberontakan ini dipimpin oleh Shodancho Supriyadi. Pasukan PETA dibentuk oleh militer kekaisaran Jepang di Indonesia dengan merekrut pemuda Indonesia dan digembleng sebagai prajurit. Namun sejarah mencatat, PETA memberontak ketika komandan muda tersentuh melihat penderitaan rakyat Indonesia yang diperbudak oleh tentara Jepang.

Veteran pejuang Indonesia, Letnan Kolonel (Letkol) Purnawirawan (Purn) H. Sriyono menuturkan, dirinya sering sekali mengikuti Ir. Soekarno dalam berbagai permasalahan. Selain itu ia juga pernah berjuang di hutan selama setahun dan menerima makanan dari sukarela masyarakat yang pro dengan Indonesia. Sriyono juga berpesan, untuk jangan pernah melupakan sejarah. “Karena jika kita melupakan sejarah, maka kita tidak tahu jati diri sendiri. Jangan mengkhianati perjuangan pejuang negara kita,” ungkapnya. Ia mengatakan, generasi muda juga jangan mudah percaya dengan sejarah-sejarah yang belum pasti kebenarannya, tetapi menyaring sejarah tersebut sebelum memaknainya.

Anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) UIN 2015, Bayu Putra Ananda menjelaskan, tragedi pemberontakan oleh PETA ini merupakan wujud rasa nasionalisme yang dikeluarkan oleh pemuda di masa penjajahan Jepang dulu. Ini tergambarkan oleh kisah pribumi yang melakukan kerja paksa tanpa dibayar dan diberi makan. “Namun karena merasa pemuda tidak dihargai, kemudian melakukan pemberontakan. Pemuda inilah yang menjadi pelopor kemerdekaan Indonesia,” terangnya. Bayu berpesan agar pemuda Indonesia memiliki semangat nasionalisme yang tidak boleh kalah seperti pemuda zaman penjajahan dulu. “Walaupun zaman sekarang sudah tidak dijajah dalam bentuk perang, namun negeri kita saat ini sedang dijajah oleh teknologi serta kemiskinan. Oleh sebab itu, pemuda Indonesia harus berani melangkah dengan semangat nasionalisme,” pungkasnya.

(Anggara Purissta)

Comments