News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

Aksi 4.11 Jadikan Bahan Pembelajaran

diposting pada tanggal 8 Nov 2016 09.07 oleh Radio RDK UIN Jakarta

Aksi Damai 4 November, Umat Islam bersama jajaran Ulama. (Source : google.com)

 

Aksi Damai yang dihadiri oleh ribuan  kaum muslimin pada Jumat (4/11) lalu, mendapat banyak tanggapan dari banyak pihak. Tak ayal jika mahasiswa ikut berkomentar. Pasalnya, peran mahasiswa juga dinilai penting sebagai generasi bangsa maupun agama.

Namun, berpindah dari sudut pandang yang ada, aksi damai kemarin sebagai pembuktian bahwa kaum muslimin yang selama ini dinilai banyak kelompok dan sulit disatukan, nyatanya tidak. Bermacam golongan kaum muslimin dari berbagai daerah, turut berpartisipasi serta berkontribusi. Seperti yang disampaikan mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), Semester satu, Ahmad Muzakkir, menurut kacamatanya, kontribusi tidak hanya ditunjukkan dengan ikut demonya. Seperti disekitar Masjid Istiqlal, banyak organisasi yang berkontribusi dengan menyediakan makanan.

Mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI), Semester satu, Indri Pujianti menuturkan, segala sesuatu yang terjadi pasti ada makna tersembuyi dibaliknya. Salah satunya aksi damai kemarin. Penilaian setiap orang pasti berbeda. Sebab sesuai sudut pandang dan ideology masing-masing.

Tapi tetap, yang namanya Mahasiswa harus bisa mengambil sisi baik. Yaa mungkin Allah greget kenapa umat muslim mulai jauh dari agamanya. “Nah setelah aksi kemarin, mulai banyak tuh yang mau mengkaji Al Quran,” tutur Indri saat ditemui Selasa (08/11).

Dosen Mata Kuliah Ulumul Quran, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), Drs. Abdul Sattar Ghanni ikut menanggapi aksi damai tersebut dalam kuliahnya. Menurutnya, jika dinilai dari segi penafsiran ayat, akan banyak arti dan makna yang muncul. Tidak hanya satu.

“Jika Ahok mengatakan bahwa Surat Al Maidah ayat 51 yang disebutnya sebagai dalil pembodohan, maka seharusnya tanyakan lagi apakah dalam bible ada ayat yang menyebutkan bahwa Yesus mengakui dirinya sebagai Tuhan?,” ungkapnya.

Maka disinilah, lanjut Sattar, mengapa mahasiswa khususnya generasi agama dan bangsa perlu untuk mengetahui semua macam ilmu. Bukan sekedar bahan pembelajaran, tapi juga sebagai bahan pembekalan.


(oleh: Nida Muharram Kumala Sari)

 

Comments