News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

Apa Kata Mahasiswa Terkait UKT dan PTN BH?

diposting pada tanggal 20 Mei 2017 22.29 oleh Radio RDK UIN Jakarta

Setiap kebijakan yang dibuat tentu mengundang pro dan kontra bagi masyarakat. Berbagai aksi bentuk penolakan dan wujud semangat bentuk persetujuan timbul tenggelam menjadi warna bersama lahirnya klebijakan-kebijakan baru. Sebagaimana kebijakan Rektor UIN Jakarta terhadap sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan beralih status menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN BH) mulai tahun ajaran 2017-2018 yang acap kali mengundang pro dan kontra dari kalangan mahasiswa. Dengan menyandang status PTN BH, perguruan tinggi memiliki otonomi penuh dalam mengatur anggaran rumah tangganya sendiri.

Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Ryan Hidayat mengungkapkan bahwa secara sistem, UKT sangatlah bagus karena terdapat subsidi silang yang membantu mahasiswa kurang mampu dalam hal ekonomi untuk tetap dapat melanjutkan pendidikan. Namun Ryan berpendapat UIN Jakarta belum siap untuk hal ini karena seringnya terjadi sistem eror pada kasusnya, proses pengisian berkas UKT menjadi terhambat, dan membuat beberapa calon mahasiswa justru terjebak dalam golongan UKT yang paling tinggi. Sedangkan untuk PTN BH sendiri, Ryan memaparkan, UIN Jakarta butuh lebih mematangkan teknis dan infrastruktur demi mewujudkan world class university.

Ryan berharap agar kampus tidak terfokus dalam melabeli diri menjadi world class university, namun lebih fokus dalam meningkatkan kualitas mahasiswanya sehingga mampu bersaing dan memiliki nilai world class university yang sebenarnya. “Jangan jadikan mahasiswa sebagai objek dan korban dari sebuah kebijakan, tapi jadikan subjek dari sebuah kebijakan,” serunya dengan lantang.

Berbeda dengan Ryan, Duta Sosial Politik 2016 UIN Jakarta, Muhammad Sarifin mengaku, menyambut baik keputusan UKT dan alih status UIN Jakarta menjadi PTN BH. Baginya, setiap kebijakan yang diputuskan tentu telah melalui rapat, penggodogan yang matang, dan digunakan untuk kepentingan mahasiswa. Sarifin menilai, sistem UKT menjadi pembagian yang adil karena jumlah uang kuliah yang dibayarkan sesuai dengan kemampuan jumlah gaji orangtua. Hal ini membangun sistem subsidi silang bagi mahasiswa yang kurang dalam kemampuan ekonomi dan membuat pemberian beasiswa menjadi lebih terarah sehingga tepat sasaran. Laki-laki yang biasa disapa Ipin ini menambahkan, alih status menjadi PTN BH juga akan meningkatkan akreditasi dan penilaian masyarakat terhadap UIN Jakarta. Ia berharap dengan dimulainya sistem UKT dan PTN BH ini, UIN Jakarta dapat mempertahankan prinsip keadilan dan meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam mengembangkan kebijakan-kebijakan kedepannya.

(Syarifatul Adibah)

Comments