News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

Arkadia Oleh-Olehi UIN Jakarta Rekor Muri dan Segudang Cerita

diposting pada tanggal 4 Jun 2017 20.23 oleh Radio RDK UIN Jakarta   [ diperbarui4 Jun 2017 23.05 ]
Tim ekspedsi raya membawa Bendera Merah Putih, UIN Jakarta, dan Arkadia di puncak Damavand

Usai dilepas secara simbolik oleh Rektor UIN Jakarta Prof. Dede Rosyada, Kapolri, dan Walikota Tangerang Selatan di Auditorium Harun Nasution Selasa (2/5) lalu, tim ekspedisi raya Kelompok Pecinta KPA Arkadia akhirnya tiba di tanah air pada Senin (29/5) pukul 19.00 WIB disambut keluarga anggota tim di Bandara Soekarno Hatta. Memulai pendakian pada 18 Mei, tim atlit Muhammad Aminullah, Achmad Chairi, dan Abdul Baits berhasil membentangkan Bendera Merah Putih raksasa pada ketinggian 4250 mdpl Gunung Damavand Iran. Tidak hanya melakukan misi pendakian, ekspedisi raya juga diramaikan oleh kegiatan seminar internasional, dan pameran pesona dan budaya Indonesia dalam rangka memperingati hari jadi ke-60 UIN Jakarta.

Tidak hanya membawa pulang prestasi karena berhasil menyabet rekor muri berkat pembentangan Bendera Merah Putih raksasa 10x15 m di puncak tertinggi Timur Tengah, tim ekspedisi raya juga membawa pulang segudang cerita selama berada di negeri Iran. Meski hanya dua orang atlit yang sampai pada puncak tertinggi timur tengah 5671 mdpl dikarenakan salah satu atlit bernama Abdul Baits mengalami aklimatisasi atau adaptasi tubuh yang kurang sempurna, namun Arkadia sukses membanggakan nama Indonesia, UIN Jakarta, dan Arkadia dikancah internasional.

Saat ditemui di sekretariat Arkadia, salah satu atlit bernama Muhammad Aminullah mengungkapkan, senang bisa memecahkan rekor muri dan menyelesaikan misi pendakian ini dengan baik. Laki-laki yang biasa disapa Anca ini menambahkan, meski medan dan suhu di Damavand jauh berbeda dengan Gunung Salak dan Semeru sebagai lokasi latihan, Anca mengaku latihan kemarin sangatlah berguna dalam melatih pendaki beradaptasi dengan kondisi ketinggian 1000 sampai 2000 mdpl di mana oksigen  80 persen berkurang. Merasakan pengalaman yang berbeda dengan pendakian gunung di Indonesia usai pendakian gunung bersalju ini, Anca mengaku masih harus melalui serangkaian medical check up dengan atlit lainnya.

Tim official yang juga menjadi salah satu pemateri dalam seminar internasional, Misthohizzaman, S.Ag., M.Hum mengaku, sempat ada perubahan topik dalam seminar internasional menjadi pengalaman Indonesia dan Iran dalam melawan radikalisme  yang diselenggarakan di Al-Mustafa University kota Qom, Iran. Mistohizzaman memaparkan, meski ada sedikit perbedaan dalam tradisi ibadah masyarakat Iran, tim ekspedisi disambut dengan ramah dan bersahabat oleh penduduk Iran yang memiliki kebanggaan berbangsa dan berbahasa yang tinggi.

Tim official, Hasan Hadi Septian yang melakukan kegiatan di Iran, sementara tim atlit melakukan pendakian, memaparkan agenda tim ekspedisi seraya selama berada di Iran. Pada minggu pertama keberangkatan, tim ekspedisi melakukan short course yaitu belajar mengenai Islam di Iran, pemikiran, dan sejarahnya. Dilanjutkan dengan jelajah budaya, kunjungan ke tempat bersejarah di kota Qom. Hasan menambahkan, selanjutnya tim melakukan aklimitisasi ke Gunung Tochal sebelum pendakian ke Gunung Damavand. Pada minggu terakhir, ekspedisi raya ditutup dengan pameran pesona dan budaya Indonesia yang bekerjasama dengan Ikatan Pelajar Indonesia di Iran (IPI).

“Pada pamera, berbagai kain tradisional dan souvenir khas Indonesia yang dipamerkan sangat menarik minat pengunjung mulai dari mahasiswa Indonesia sampai mahasiswa Iran itu sendiri.  Saya harap KPA Arkadia dapat melaksanakan ekspedisi raya lagi dengan konsep yang jauh lebih baik dari sekarang serta tidak puas diri sampai disini, tapi bisa lebih dan lebih,” urai Hasan.

(Syarifatul Adibah)

Comments