News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

Ayo Jadi Sahabat Orangutan!

diposting pada tanggal 8 Jan 2018 08.34 oleh Radio RDK UIN Jakarta   [ diperbarui11 Feb 2018 21.13 ]
Orangutan unsur penting bagi paru-paru dunia 
sumber : newsscientist.com

Mamalia endemik Indonesia dengan nama latin Pongo Pygmaeus untuk Orangutan dari Kalimantan, dan Pongo Abelii untuk yang berasal dari Sumatera populasinya sudah sangat minim sekali di habitat alaminya. Seperti yang dilansir dari situs resmi World Wild Fund of Nature (WWF) jumlah Orangutan Borneo/Kalimantan tinggal 23.000 dan 12.000 untuk Orangutan Sumatera. Mamalia yang memiliki kemiripan DNA hampir 97% dengan manusia ini hidup di kawasan hutan Tropis dan rawa-rawa dengan mengonsumsi buah, daun, kulit, bunga, madu, serangga dan tunas tumbuhan di dalam hutan.

Seperti yang diberitakan oleh Antara News, dalam kurun waktu 10 tahun jumlah kera besar dengan lengan panjang dan bulu kemerahan ini menyusut hingga 25% penyusutan ini disinyalir disebabkan oleh konflik orangutan dan manusia yang tinggi, perburuan liar, kebakaran, dampak perubahan iklim dan yang paling utama perubahan fungsi hutan yang dikuasai oleh pihak swasta.  Nahasnya, orangutan disebut-sebut sebagai spesies kera besar pertama yang akan punah di alam liar. Hampir dipastikan orangutan akan kehilangan 80% wilayah tempat tinggalnya dalam kurun waktu 20 tahun, mengingat laju deforestasi di Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia. Sebagai spesies dasar, hilangnya orangutan mencerminkan hilangnya ratusan spesies tanaman dan hewan pada ekosistem hutan tropis. Lalu apa yang harus kita lakukan demi menjaga keberadaannya?

drh. Feby Yolanda memaparkan, orangutan merupakan satwa arboreal yang hidup di atas pohon. Selama hidupnya orangutan akan beraktivitas, makan sekaligus menyebarkan bibit di hutan. Feby menambahkan, orangutan akan jauh lebih bahagia  hidup bersama kelompoknya di hutan, bermain, berkelahi dan secara tidak langsung menebar bibit ketimbang menjadi hewan peliharaan. Pada kasusnya, orangutan dijadikan hewan peliharaan karena masuk ke pemukiman dikarenakan habitat aslinya terganggu. Alih-alih berlindung, orangutan justru dianggap hama, induk orangutan dibunuh dan anakannya diambil untuk dijadikan hewan peliharaan.

“Menjadikan Orangutan sebagai hewan peliharaan bukanlah suatu keputusan yang bijak, dengan 97% kemiripan DNA orangutan dapat dengan mudah menularkan penyakit kepada manusia, begitupula sebaliknya,” papar Feby. Feby menambahkan, ada banyak virus penyakit yang tidak terlalu berdampak pada hewan, namun memiliki dampak besar bahkan mematikan bila sampai tertular pada manusia. Menurut Feby, sebuah PR besar untuk mengembalikan orangutan yang biasa hidup di lingkungan manusia ke habitat aslinya, butuh beberapa tahapan rehabilitasi seperti melatih berburu makanan sendiri, survive di hutan, dan general check up untuk menetralisir orangutan dari penyakit bawaan manusia.

Saat disinggung perihal gerakan save wild live di masyarakat, Feby mengaku gaungnya baru milik sebagian orang saja. Meski memiliki gerakan yang amat progresif dalam komunitas, namun gerakan ini belum akrab dengan masyarakat. Selain di kota-kota besar, Feby berharap gerakan ini dapat lebih aktif di daerah terpencil yang lebih dekat dengan habitat asli satwa liar. Feby berharap, kesadaran melindungi satwa liar dan alam dapat menyatu dengan kearifan lokal, seperti yang terjadi di suku Baduy pedalaman, yang memiliki kebiasaan mengganti apa saja hasil hutan yang telah diambil, setiap kali menebang pohon mereka akan menanam pohon yang sama.

“Masyarakat yang tinggal disekitar hutan, seharusnya menjadi garda terdepan pelindung, pemerintah dan berbagai NGO seharusnya dapat bergerak seiringan melakukan gerakan Save Orangutan tanpa ada asas kepentingan tertentu,” papar Feby.

Sebagai khalifah di bumi, menurut Feby sudah seharusnya melindungi hutan dan orangutan, “Belajar dari kisah Nabi Nuh as dan Kapal besarnya, Allah swt memerintahkan Nabi Nuh as menaikan seluruh hewan berpasangan ke atas kapal. Dari sini Allah swt secara tersirat mengajarkan upaya konserfasi,” papar Feby.

 “Sebagai khalifah seharusnya kita melakukan usaha yang sama, menyelamatkan mereka dari kepunahan, bukan malah membuat mereka punah,” tutupnya.

Sependapat dengan Feby, ketua umum Kelompok Mahasiswa Pecinta Alam (KPA) Arkadia, Aminullah memaparkan, mengemban status sebagai satwa yang terancam punah dan dilindungi oleh UU no. 5 tahun 1990 mengenai konservasi sumber daya alam dan keanekaragaman hayati, orangutan memiliki banyak persamaan dengan manusia. Cara berjalan, bermain, dan jiwa kasih sayangnya disebut-sebut mirip dengan manusia. Orangutan membantu dalam penyebaran bibit tanaman dari sisa makanan yang ia konsumsi di hutan. Nahasnya, oleh oknum-oknum tertentu orangutan seringkali dianggap hama dan tak jarang siapa yang dapat membunuh Orangutan akan mendapat imbalan.

“Rata-rata tempat tinggal orangutan baik di Sumatera maupun di Kalimantan sudah dialih fungsikan menjadi milik perusahaan swasta, bahkan sebagian tanah perusahaan adalah wilayah konservasi,” ujar laki-laki yang akrab disapa Anca ini.

Tidak semua perusahaan kelapa sawit dapat bekerjasama dengan konservasi, di beberapa wilayah ada sebagian yang bekerjasama dengan lembaga konservasi orangutan. Anca menambahkan, Jika di area kebun sawit terdapat orangutan mereka dilarang melakukan kegiatan perkebunan di area tersebut. Dan jika perusahaan hendak memindahkan orangutan tersebut, harus membiayai seluruh keperluan terkait. Menurut Anca, sudah banyak upaya untuk mengembalikan populasi orangutan di Indonesia, seperti sekolah hutan yang dikelola oleh NGO, penyadartahuan melalui sosialisasi mengenai orangutan, pelatihan konservasi dan cyber campaign serta terus melakukan monitoring kebun kelapa sawit.

Saat disinggung soal kepedulian masyarakat terhadap berbagai gerakan perlindungan orangutan, menurut Anca sudah banyak kalangan yang tertarik terhadap hal ini, meskipun belum menyeluruh namun hal ini dibutikan dengan animo mereka untuk ikut serta dalam kegiatan pelatihan konservasi orangutan, menjadi volunteer di sekolah hutan, dan rela mendedikasikan waktu, tenaga bahkan materi untuk program ini.

“Kasus orangutan yang dijadikan model foto bersama artis ibu kota Luna Maya 2017 silam, menjadi bukti masyarakat mulai memiliki awareness terhadap upaya perlindungan orangutan. Banyak masyarakat yang menyayangkan orangutan yang dijadikan sebagai objek foto, sedangkan status keberadaan orangutan sendiri tergolong memperihatinkan,” tutup Anca.

(Syarifatul Adibah)

Comments