News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

Beda Cari Ilmu Dulu dan Sekarang

diposting pada tanggal 24 Agt 2017 16.47 oleh Radio RDK UIN Jakarta

Zaman dahulu, orang sulit mencari ilmu tapi mudah mengamalkannya. Zaman sekarang, orang mudah mencari ilmu tapi sulit mengamalkannya. Dahulu pula, ilmu dikejar, ditulis, dihafal, diamalkan, dan diajarkan. Sekarang, ilmu diunduh, disimpan, dikoleksi, lalu diperdebatkan. Dahulu, butuh peras keringat dan usaha mati-matian untuk mendapatkan secercah ilmu, namun sekarang, orang hanya duduk manis dengan memegang alat elektronik untuk mendapatkan sebuah ilmu yang dihambur-hamburkan dengan menghabiskan kuota internet.

Dilansir dari akun facebook resmi Alhabib Quraisy Baharun, dirinya juga menulis bahwa setiap insan harus ingat diri, mata manusia akan menjadi saksi atas apa yang telah dilihat, jemari manusia akan menjadi saksi pula atas apa yang telah dilakukan. Suatu hari nanti, apapun yang manusia lakukan dengan anggota badannya akan bersaksi di hadapan penciptnya. Maka, dapatkah manusia untuk membantahnya? Jangan sampai anggota badan kita menjadi musuh yang akan mengadu di akhirat kelak jika kita tak menggunakannya sesuai dengan syariat Allah.

Mahasiswa fakultas Ushuluddin jurusan Ilmu Quran dan Tafsir semester 5, Nur Fauziyah Az-Zulfa mengungkapkan, jahiliyahnya zaman dulu dikarenakan minimnya ilmu yang didapat, jahiliyahnya di zaman sekarang yaitu menghamburkan ilmu hanya untuk kepentingan duniawi. “Manusia memang tak luput dari dosa, akan tetapi jika introspeksi mengenai segala macam yang menyangkutpautkan Alquran, maka hidup akan lebih tentram dan jangan sampai terlena di zaman sekarang yang semuanya serba dapat dimanjakan,” tutur Fauziyah.

Mahasiswa Fakultas Psikologi semester 3, Fadlan Abdul Aziz menuturkan, suatu permasalahan yang darurat di masa kini yaitu terlenanya dengan duniawi yang berakibat buruk bagi amalan maupun ibadah seseorang, lupanya akan kematian, serta jauhnya dari Alquran.”Khususnya mahasiswa UIN Jakarta mampu menjadi poros pergerakan yang dapat dengan tegas menolak pemanjaan teknologi dengan melahirkan inovasi baru,” harap Fadlan.

Radhina Rifa Muthiah

Comments