News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

Bedah Buku Metamorfosis Komunikasi Korupsi

diposting pada tanggal 1 Nov 2017 14.30 oleh Radio RDK UIN Jakarta

Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) menggelar acara Bedah buku yang merupakan salah satu rangkaian acara Milad Dakwah 27. Bedah Buku mengenai “Metamorfosis Sandi Komunikasi Korupsi” karya Sabir Laluhu M.Sos.I. Acara yang diadakan di Auditorium Harun Nasution, turut mengundang ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Periode (2011-2015), Dr.Abraham Samad S.H., M.H.,. Guru besar Ilmu Komunikasi UIN Jakarta, Prof.Andi Faisal Bakti, P.HD. dan Ketua Bidang Advokasi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, M. Isnur S.H.I,. Acara dimulai pukul 13.00 hingga 16.30 WIB pada Rabu (2/11).

Penulis buku, Sabir Laluhu mengatakan bahwa buku tersebut ditulis selama dua tahun satu bulan, yakni sejak November 2014 hingga Desember 2016. Di dalamnya terdapat sekitar 199 sandi yang dapat dianalisis melalui prespektif komunikasi dan menggunakan beberapa teori komunikasi diantaranya teori interaksi simbolik, teori aturan percakapan, teori pendekatan rasional, dan semotika komunikasi. Secara rinci buku ini menggambarkan dan menjelaskan tentang sandi-sandi korupsi yang digunakan para koruptor dalam berkomunikasi melakukan tindak pidana, terdapat sekitar 23 kasus korupsi, dari kurun waktu 9 tahun atau 2007 hingga 2009. Sabir menambahkan, sandi yang digunakan pelaku  tidak hanya dalam bahasa Indonesia, tetapi muncul juga sandi dengan bahasa Inggris, bahasa Arab, dan bahasa-bahasa daerah seperti Makasar, Padang, Jawa, dan Sunda. Penggunaan dan pemaknaan sandi tergantung pada kesaam yang diterima komunikan dan komunikator.

“Semoga buku ini dapat membantu KPK atau penegak hukum lainnya untuk memecahkan sandi komunikasi korupsi,” Ungkap Sabir.

Dalam bedah buku, Dr, Abraham Samad S.H,. M.H,. mengucapkan terimakasih karena buku Metamorfosis Sandi Komunikasi Korupsi dapat membantu pihak KPK dalam membuka keburukan dan kehancuran pada dunia korupsi. Abraham menjeaskan, metamorfosis merupakan suatu perubahan, hal serupa juga dialami dalam dunia korupsi. Dahulu kejahatan korupsi, merupakan hal yang memalukan, seperti tindakan suap menyuap contoh yang sederhana. Kemudian dari sesuatu yang sederhana berkembang dan mengalami perubahan menjadi sebuah kejahatan yang besar, susah dilacak dan diketahui karena menggunakan sandi komunikasi. Hal tersebut dilakukan oleh orang-orang berdasi yang memiliki ide cemerlang dan pintar sehingga menggunakan sandi komunikasi, agar perbuatannya tidak dapat diketahui dengan mudah.

“Saya berharap semoga kita semua bisa melakukan sebuah perbaikan sistem, mengintegrasikan pencegahan dan penindaka untuk melakukan pemberantasan korupsi,” Ujar Abraham.

(Naila Fitri)

Comments