News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

Bedah Buku Toleransi dan Perbedaan Oleh PSIK

diposting pada tanggal 23 Mar 2017 11.29 oleh Radio RDK UIN Jakarta
Penyerahan cinderamata dari Kepala Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Inggris 
kepada pihak Friedrich Ebert Stiftung (FES)

Perbedaan suku, agama,  warna kulit, dan bahasa di Indonesia merupakan anugerah dari Tuhan. Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia (PSIK) bekerjasama dengan Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Pendidikan (FITK) UIN Jakarta, mengadakan bedah buku tentang perbedaan dan toleransi. Acara yang dimulai pukul 09.00 hingga 13.00 WIB ini bertempat di teater Prof. Zakiyah Drajat.

Direktur eksekutif PSIK, Suryono mengatakan, PSIK menghasilkan karya dalam bentuk tulisan seperti Indonesia Zamrud Toleransi, dan Menghargai Perbedaan Pendidikan Toleransi untuk Anak. Buku tersebut merupakan hasil diskusi jaringan PSIK seluruh Indonesia yang terus memberikan sumbangsih luar biasa dalam upaya menggali keIndonesiaan, selama delapan tahun terakhir.

“Karya tersebut juga dipublikasikan ke dalam edisi Bahasa Arab dan Bahasa Inggris yang bekerjasama dengan Friedrich Ebert Stiftung (FES),” katanya. Suryono menambahkan, selain karya berbentuk buku, dihasilkan juga film dokumenter dengan judul After the Storm. Film ini menceritakan sepenggal kisah perdamaian di Maluku pada masa konflik. Selain itu karya yang lain juga menyertai seperti karya animasi untuk anak yang akan di buat serial dan dipublikasikan melalui media sosial yaitu youtube, dan ditambah dengan lagu daerah, jingle, dan karya lainnya. “Saya harap melalui upaya tersebut dapat mengembangkan pendidikan bahasa di Indonesia serta penggalian dan pelestarian bahasa-bahasa daerah di nusantara,” tutur Suryono.

Mahasiswa FITK Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia semester dua, Dinda Hapsari mengatakan bahwa acara tersebut sangat menarik karena membahas tentang toleransi di Indonesia. Dinda berharap, kedepannya toleransi beragama di Indonesia semakin baik dan tidak ada perpecahan karena perbedaan pendapat dan pandangan. “Karena pada dasarnya, manusia hidup saling berdampingan dan membutuhkan satu sama lain,” imbuh Dinda.

(Naila Fitri)

Comments