News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

Benarkah Cerita Di Dalam Film G30S/PKI Benar-Benar Terjadi?

diposting pada tanggal 3 Okt 2017 16.36 oleh Radio RDK UIN Jakarta

Tanggal 3 Oktober adalah waktu yang memiliki nilai historis bagi bangsa Indonesia. Bagaimana tidak, tanggal tersebut adalah tanggal di mana para pahlawan revolusi yang merupakan jenderal-jenderal dalam peristiwa G30/PKI diangkat dari sumur tua di wilayah lubang buaya. Peristiwa itu menjadi rekaman sejarah kelam bangsa yang tidak bisa dihapuskan.

Pengangkatan 6 jenderal dan 1 perwira ini menjadi saksi bisu kejamnya di dalam peristiwa G30S/PKI yang telah menjadi cerita masyarakat. Para pahlawan revolusi disiksa dan dibunuh oleh antek-antek PKI dan Cakrabirawa (sekarang PASPAMPRES) dengan dalih meredam rencana kudeta Presiden Soekarno kala itu.

Semua penceritaan dan visualisasi kejadian pembunuhan para jenderal itu, dituangkan ke dalam film yang berjudul “Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI” yang disutradarai Arifin C. Noer. Namun beberapa tahun belakangan, banyak kabar yang mengatakan jika adegan dan cerita di dalam film tersebut banyak yang mengandung kekeliruan dan unsur doktrin kepada masyarakat, khususnya di orde  lama.

Hal ini diperkuat oleh pernyataan wartawan yang meliput saat pengangkatan para pahlawan revolusi di sumur lubang buaya. Wartawan yang bernama Hendro Subroto ini mengatakan bahwa mayat tersebut tidak ada luka sayat-sayat seperti penyiksaan yang ditampilkan dalam film.

Tetapi hal itu ditepis oleh istri dari sutradara film tersebut, yakni Jajang C. Noer. Dirinya mengaku kalau sebelum pembuatan film, dirinya melakukan observasi terlebih dahulu bersama suaminya. “Saya dan mas Arifin mewawancarai setiap saksi mata hingga keluarga yang melihat peristiwa tersebut. Setiap hasilnya selalu saya catat, dan kami visualisasikan ke dalam adegan film,” tutur Jajang C. Noer.

“Suami saya juga merupakan orang yang teliti. Dia ingin setiap data di cek kebenarannya. Maka tidak ada kebohongan dalam film tersebut,” tambahnya.

Menurut Jajang C. Noer, justru adegan film tersebut telah diperhalus agar tidak sesadis peristiwa aslinya. Namun, itu bukanlah aspek yang membuat film tersebut dapat dikatakan “membohongi” masyarakat.

Pernyataan disampaikan pula oleh Amaroso Katamsi. Katamsi yang menjadi pemeran jenderal Soeharto di dalam film mengatakan kalau film tersebut bukanlah film dokumenter. “Film itu adalah film cerita yang dinaskahkan, namun diisi oleh berbagai fakta-fakta yang terjadi. Sebab, film itu juga bukanlah film dokumenter. Maka, diperlukan efek-efek dramatisasi di dalam cerita filmnya,” ungkap Katamsi yang dilansir dari TVOne.

Katamsi juga menegaskan, film tersebut dibuat berdasarkan sejarah yang valid dan benar. Maka ia menepis anggapan jika film yang diperankannya ini mengandung kebohongan.

Menanggapi hal itu, alumni UIN Jakarta jurusan Sejarah Peradaban Islam, Khairul Ummai mengatakan jika perlu adanya klarifikasi atau semacamnya kepada masyarakat. “Sekarang, masyarakat dipersulit dengan berbagai fakta yang berbeda. Nyatanya saja, banyak pandangan yang berbeda terhadap cerita di film tersebut yang membuat masyarakat bertanya-tanya, apakah kejadian aslinya seragam dengan film G30S/PKI itu?” tutur Khairul Ummami.

“Semoga, tanggal 3 Oktober ini kita semua dapat mengingat kekejaman yang dilakukan PKI terhadap bangsa Indonesia. Jadi, tidak pernah akan terulang kembali kisah-kisah seperti itu. Selain itu, jangan sampai PKI dapat tumbuh dan berkembang lagi di Indonesia,” tutupnya.

(Fathur Alfarizi)
Comments