News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

Bentuk Solidaritas Mahasiswa Terhadap Petani Kendeng

diposting pada tanggal 29 Mar 2017 07.29 oleh Radio RDK UIN Jakarta   [ diperbarui29 Mar 2017 14.49 ]
Diskusi mengenai petani Kendeng di Fisip

Belakangan ini, isu tentang petani Kendeng sedang hangat-hangatnya menjadi topik di masyarakat. Terdapat berbagai macam aksi demonstrasi yang dilakukan oleh petani asal Pegunungan Kendeng, Rembang, dan Pati. Semua itu disebabkan oleh kabar tentang rencana pembangunan pabrik semen di wilayah tersebut yang notabenenya adalah sumber air yang besar. Berdasarkan hal itu, tercetuslah kegiatan yang diinisiasi oleh Himpunan Mahasiswa Politik (Himapol) dan Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) UIN Jakarta berbentuk diskusi yang membahas tentang isu petani Kendeng. Diskusi yang bertajuk “Kendeng Adalah Kita berlangsung pada Rabu (29/3) sore pukul 16.30 di selasar gedung Fisip.

Berdasarkan hal itu, ketua pelaksana diskusi Adnan Zafar Putra mengatakan, latar belakangnya diskusi ini dilaksanakan ialah sebagai bentuk kesadaran mahasiswa selaku moral agent. “Mahasiswa diberikan tenaga, materi, dan pendidikan untuk berjuang demi masyarakat. Maka dari itu, mahasiswa yang notabenenya penyambung lidah masyarakat khususnya kepada kaum kurang terdidik, untuk memberi tahu tentang fakta yang ada,” ungkap Adnan.

Berdasarkan fenomena yang sedang terjadi, petani di Kendeng digusur dan diusir dari pemukimannya. Sebenarnya, perbuatan itu berasal dari perusahaan semen Indonesia, namun Pemerintah Jawa Tengah mencoba membuat legitimasi sehingga terjadilah kejadian tersebut. Adnan menuturkan bahwa sebenarnya petani-petani Kendeng telah dilindungi oleh Mahkamah Agung (MA), namun karena peraturan gubernur membuat petani Kendeng kalah dalam memerjuangkan haknya. Sebab itu, Adnan menegaskan diskusi ini sebagai bentuk solidaritas terhadap petani Kendeng sekaligus akan menjadi tempat resolusi sikap mahasiswa kedepannya, terhadap kasus yang tengah berkembang.

Sejalan dengan pernyataan Adnan, anggota Departemen Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Dema Fisip, Muhammad Nashirulhaq menambahkan, sebenarnya ini adalah bagian dari rangkaian acara. Sebelumnya, telah dilakukan penggalangan dana, kemudian sekarang diadakan diskusi. Bukan tidak mungkin, anggapan Nashir, akan ada aksi-aksi lainnya yang berkaitan dengan kasus petani Kendeng. “Memang sedang banyak dukungan dari berbagai daerah secara parsial. Itu semua untuk memberi tekanan terhadap pemerintah agar memerhatikan kasus petani Kendeng ini,” ujarnya.

Nashir beranggapan, permasalahan Kendeng adalah permasalahan bersama. Walaupun bersifat sensitif, namun jangan sampai berhenti sampai di sini. “Diskusi ini untuk memberi gambaran lebih luas kepada mahasiswa, terutama yang masih awam serta semacam penyadaran tentang keadaan hari ini,” tutup Nashir.

(Fathur Alfarizi)

Comments