News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

Bincang Buku Bung Karno Bersama Mizan

diposting pada tanggal 15 Agt 2017 17.00 oleh Radio RDK UIN Jakarta
Mochammad Nur Arifin tengah menyampaikan materi tentang Bung Karno di Aula Madya FISIP

Penerbit Mizan, bekerjasama dengan komunitas gerbang sejarah Warung Sejarah RI dan laboratorium Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poilitik (FIISP), menggelar bincang buku Bung Karno Menerjemahkan Alquran yang ditulis oleh Mochammad Nur Arifin yang juga wakil bupati termuda di Aula Madya FISIP pada Selasa (15/8). Acara tersebut di hadiri oleh pembicara seorang politisi muda, Tsamara Amany dan di isi oleh penampilan stand up comedy Jupri. Mengusung tema Bung Karno di Mata Generasi Millenial, acara yang terbuka untuk umum dan dihadiri oleh sekitar 130 peserta tersebut, untuk 100 pendaftar pertama mendapat buku karangan Mochammad Nur Arifin. Acara yang berlangsung meriah ini dimulai pukul 9 hingga 12 siang.

Penulis buku, Mochammad Nur Arifin dalam materinya menyampaikan, politik yang dianut oleh Bung Karno bukan independen, melainkan politik yang di anut adalah ekonomi dan sosial, keadilan dalam ekonomi dan berdikari dalam ekonomi. “Untuk menjamin keadilan sangatlah sulit, kebanyakan kita gampang untuk menunjuk orang lain ketimbang diri kita sendiri,” tutur Nur Arifin. Dirinya mengatakan, kita harus berani untuk mulai berpolitik, karena masih banyak masyarakat yang berhati bersih dan mau diatur. Maka yakinlah bahwa dengan politik adalah salah satu jalan pribadi kita untuk membenahi Indonesia. Arifin menambahkan, bahwa hadirnya ia bukan semata untuk mempromosikan bukunya saja, melainkan ingin bertemu dengan para peserta yang hadir untuk membagi ilmu dan dapat memerdekakan Indonesia agar menjadi lebih baik.

Politisi muda, Tsamara Amany dalam materinya menyampaikan, sangat mengagumi sosok Bung Karno yang menganut paham patriarki, sebuah sistem sosial yang menempatkan laki laki sebagai sosok otoritas utama. “Akan tetapi Bung Karno tidak mau membelenggu wanita, hingga kenyataan yang mendasari bahwa Bung Karno menikah sampai sembilan kali dan masih diperdebatkan,” jelas Tsamara. Tsamara menyinggung, jika dirinya dipoligami tidaklah setuju.

Tsamara menambahkan, dalam berpolitik dibutuhkan suatu gebrakan baru, bukan gebrakan lama. “Karena politik harus dari pakarnya dan membutuhkan biaya,” ungkap Tsamara. Ia berharap, anak muda harus ada di depan dan terbuka, bagaimana jadinya jika anak muda masih saja tertutup, serta anak mudah harus  mempunyai semangat membaca.

Seli Nursolihat

Comments