News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

BPI Adakan Seminar Trauma Healing

diposting pada tanggal 3 Des 2017 09.55 oleh Radio RDK UIN Jakarta

Adanya bencana alam merupakan musibah yang harus dihadapi, apalagi sampai merenggut nyawa orang yang kita sayangi. Untuk bisa menerima kenyataan pahit dan melupakan kejadian itu perlu waktu bahkan bimbingan. Maka dari itu, Kamis (30/11) lalu bertempat di Teater Aqib Suminto, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Bimbingan Penyuluhan Islam mengadakan Seminar Trauma Healing dengan mengusung tema “Metode Pendampingan Sosial Pasca  Bencana Bagi Penyuluh Professional”. Dengan narasumber leader program community development Aksi Cepat Tanggap, Mohammad Rulli Renata.

Ketua Pelaksana, Rofkly Ali Kavie mengatakan tujuan diadakannya seminar ini selain untuk memperingati hari lahir jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam yang ke-24, juga sebagai salah satu tahapan bahwasannya sebagai mahasiswa yang bergerak dibidang konseling masyarakat harus memiliki jiwa nasionalisme. Rofkly menambahkan, dengan menumbuhkan jiwa nasionalisme dapat membentuk kebribadian baik dan sosial. Rofkly menambahkan kendala yang dialami adalah kurangnya sumber daya manusia.

“Dengan diadakannya seminar ini semoga dapat menjadikan seorang penyuluh yang berjiwa ikhlas dan suka menolong sesame,” tutur Rokly.  

Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) jurusan BPI semester tiga bernama Muhammad Ghofur mengatakan, Seminar Trauma Healing memberikan pemahaman bagaimana seharusnya kita melihat orang terkena musibah seperti contohnya Tsunami yang melanda Aceh pada 2004, dan merenggut ribuan korban jiwa yang tentunya menyisakan trauma besar. Oleh karena itu, kita harus bisa mengarahkan mereka agar mampu melupakan kejadian yang telah terjadi. Ghofur menambahkan dampak negatif bagi trauma healing yang berlebihan adalah stress dan depresi.

“Selain bantuan fisik dan pangan, para korban yang terkena bencana juga membutuhkan bantuan kesehatan mental karena trauma yang telah dialaminya. Salah satunya dengan memberikan kelompok bermain atau ice breaking,” Ujar Ghofur.

(Seli Nursolihat) 

Comments