News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

Dampak Kecanduan Smartphone Ganggu Kesehatan Kimia Otak

diposting pada tanggal 6 Des 2017 13.39 oleh Radio RDK UIN Jakarta
Kecanduan handphone
sumber : Okezone.com

Manusia dengan gadget merupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Manusia membutuhkan gadget yang merupakan perangkat elektronik dengan desain khusus untuk kebutuhan internet dan seiring perkembang zaman menjadi semakin canggih. Salah satu bentuk gadget adalah handphone. Walaupun bentuknya kecil, namun manfaatnya sangat besar. Handphone digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain baik dalam jarak yang jauh atau dekat, karena keberadaan handphone atau smartphone yang marak dimana-mana dengan fitur canggih serta harga yang terjangkau, membuat hampir semua orang memiliki smartphone. Namun tahukah anda bahwa handphone memiliki dampak buruk bagi kesehataan kimia otak?

Menurut penelitian yang dilansir dari Kompas.com, seorang Professor Neuroradiologi Universitas Korea, Dr Hyung Suk Soe, menemukan ketidakseimbangan bahan kimia pada otak remaja yang kecanduan smartphone. Hal itu disampaikan dalam pertemuan Perkumpulan Radiologi Amerika di Chicago. Berdasarkan definisi Asosiasi Psikiatris Amerika, penggunaan internet berlebihan menyebabkan gangguan pada kehidupan sehari-hari seperti gangguan tidur dan relasi sosial. Saat proses peneltian, Soe meneliti 19 otak remaja yang kecanduan internet atau smartphone dan 19 orang remaja yang tidak kecanduan. Hasilnya terdapat kelebihan jumlah  neourotransmiter yang disebut Gamma-aminobutyric Acid (GABA),  yang berarti menghambat sel saraf memancarkan gelombang otak.

Sebetulnya Gaba ditemukan pada setiap otak manusia. Namun, terlalu banyak di daerah yang salah dapat menyebabkan efek melemahkan. Para partisipan menunjukan kecanduan yang mengganggu rutinitas sehari-hari, seperti tidur, produktivitas, insomnia, kegelisahan, depresi dan implusif yang lebih tinggi dari kelompok kontrol.

“Karena kecilnya sampel yang digunakan, masih terlalu dini untuk membuat kesimpulan ketidakseimbangan kimiawi otak terkait dengan kecemasan dan depresi, untuk itu penelitian lebih besar dibutuhkan guna memperkuat informasi,” papar Soe.

Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi jurusan Sistem Informasi (SI) semester tiga, Neera Maulidina mengaku, tidak bisa lepas dari smartphone karena hampir setiap menit mengeceknya untuk sekedar membalas pesan atau mencari informasi.Tetapi hal lain juga dirasakannya, keseringan menunduk dan bermain smartphone kadang membuat bagian pundak belakang terasa pegal, bahkan lebih parahnya bisa membuat insomnia. Maka dari itu mulai beberapa bulan kebelakang dirinya sudah mengurangi intensitas bermain smartphone dan hanya menggunakannya ketika perlu.

(Naila Fitri)

Comments