News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

Disability Fair Oleh HMJ Kesejahteraan Sosial

diposting pada tanggal 20 Mei 2017 22.21 oleh Radio RDK UIN Jakarta
Ahmad Fanani Rosyidi saat mengisi seminar season kedua

Seringkali, hak dan segala akses masyarakat penyandang disabilitas dibatasi. Padahal, sejatinya mereka juga memiliki kompetensi yang dapat bersaing dan tidak dapat diragukan. Oleh karena itu, Jumat (19/5) lalu Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Kesejahteraan Sosial (Kessos) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta mengadakan Seminar Disability Fair yang ke tiga. Bertajuk “Wujudkan Berjuta Impian dengan Kesamarataan yang Harmonis”, acara ini mengundang 15 peserta penyandang disabilitas serta dihadiri  150 mahasiswa di Teater Prof. Dr. Aqib Suminto lantai dua gedung Fdikom. Pembicara pada seminar yang dilaksanakan hingga pukul 17.00 WIB ini adalah Taufiq Effendi, Ahmad Fanani Rosyidi, dan Ellies Sukmawati. Tidak sekedar penyampaian materi, pada seminar ini juga terdapat penampilan dari Social Welfare Percussion (SWP), tari tradisional, dan akustik.

Taufiq Effendi memaparkan, sebagai penyandang tunanetra dirinya mengaku, masyarakat Indonesia terlalu ramah dalam memperlakukan tunanetra di ruang public. Namun, seringkali keramahan tersebut malah menjadi miskonsepsi atau tidak sesuai dan semakin melemahkan kaum tunanetra. Banyak yang menganggap kaum disabel tidak mampu, pemahaman ini jelas salah. Menurutnya, ketidakmampuan kaum disabel justru dibentuk oleh persepsi masyarakat itu sendiri. Banyak masyarakat yang menganggap kaum disabel kehilangan fungsi, padahal pada kenyataannya kaum disabel memiliki cara sendiri dalam melakukan hal yang sama seperti orang normal.

“Sebagai difabel, seringkali dia mendapat jastifikasi salah dari masyarakat.Masyarakat perlu diubah mindsetnya, dan diberi edukasi perihal bagaimana memberikan kesempatan dan memberikan kembali hak kaum difabel seperti masyarakat pada umumnya. Dukungan keluarga dan masyarakat dapat mewujudkan kesetaraan hak terhadap kaum difabel,” ungkap Taufiq yang juga merupakan salah satu Dosen Pendidikan Bahasa Inggris di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK).

Aktivis HAM Ahmad Fanani memaparkan, hak-hak disabilitas sudah diatur dalam perundang-undangan. Pelanggarnya pun akan dikenakan denda dan kurungan penjara. Namun pada praktiknya di Indonesia diakui Ahmad sangatlah kurang. Oleh karena itu, segenap lapisan masyarakat wajib ikut berperan dalam mengembalikan hak social, fisik, hingga politik, serta mencopot stigma dan pelabelan terhadap disabilitas. Menutup seminar, Ahmad mengungkapkan bahwa  menjadi PR bersama, ebagai mahasiswa dan sumber daya terdidik untuk membantu mengembalikan fungsi disabilitas dalam masyarakat dengan memberikan hak serta advokasi kepada mereka.

(Syarifatul Adibah)

Comments