News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

Diskusi Humaniora Petani Melawan Semen

diposting pada tanggal 29 Mar 2017 15.16 oleh Radio RDK UIN Jakarta

Gunung Kendeng merupakan pegunungan kapur yang terletak di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan merupakan kawasan wilayah hutan lindung yang harus dijaga dan dilestarikan. Melihat persoalan petani Kendeng, Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Jakarta mengadakan diskusi mahasiswa humaniora bertajuk “Petani dibelenggu Semen” yang dimulai pukul 16.00 hingga 19.00 WIB di landmark FAH.

Kepala bidang (kabid) Advokasi dan Lingkungan, Kelompok Mahasiswa Pecinta Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan (KMPLHK) Raden Ibnu Batutah (Ranita), Fika Rakhmalinda memaparkan, Gunung Kendeng merupakan kawasan karst, sehingga Perseroan Terbatas (PT) Semen Indonesia tergiur untuk membangun perekonomiannya. Tetapi, ancaman kerusakan yang ditimbulkan akan berdampak pada kehidupan warga sekitar.  Sebenarnya, masalah tersebut sudah lama terjadi pada 2014. Penolakan masyarakat melalui aksi dilakukan hingga 2016 dan menghasilkan putusan Mahkamah Agung (MA) Jawa Timur sehingga perizinan dibatalkan.

“Selanjutnya dilakukan kajian lingkungan hidup mengenai dampak pendirian pabrik semen di Pegunungan Kendeng. Namun tanpa sepengetahuan masyarakat, dikeluarkan izin baru pada awal November 2016,” terangnya.

Pada aksi yang dilakukan Selasa (21/3) lalu, gugurlah salah satu pejuang lingkungan hidup untuk melawan ketidakadilan yaitu Patmi. Mahasiswa semester 10 ini berharap agar keadilan di Indonesia dapat berjalan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Ketua Dema FAH, Muhammad Najiyudin mengatakan, melalui diskusi ini dapat membuka pengetahuan mahasiswa tentang kasus desa Kendeng, masalah yang akan dihadapi, dan dampak lingkungan. Selain itu dapat juga mengingkat kesadaran mahasiswa yang belum mengetahui dan yang sudah mengetahui tetapi tidak melakukan gerakan. Najiyudin juga mengatakan bahwa setelah diskusi ini akan ada tindak lanjut untuk kedepannya berupa aksi nyata yang akan dilakukan bersama Dema UIN Jakarta.

“Semoga mahasiswa lebih peduli terhadap dinamika kehidupan di luar kampus seperti yang tercantum pada Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat. Sangat diharapkan juga perjuangan masyarakat Kendeng dapat diwujudkan sesuai dengan Undang-Undang dan hukum yang berlaku,” harap Najiyudin.

(Naila Fitri)

Comments