News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

Diskusi Nasional Bertajuk Intoleransi

diposting pada tanggal 30 Jan 2017 06.57 oleh Radio RDK UIN Jakarta   [ diperbarui31 Jan 2017 04.34 ]
                                                        Narasumber sedang memaparkan pendapatnya


Diskusi nasional bertajuk “Menyoal Toleransi Menerka Kemajemukan telah dilaksanakan di aula Student Center (SC), Senin (30/1). Diskusi ini membahas tentang toleransi dan kemajemukan yang ada di Indonesia. Acara yang dimulai pukul 13.30-16.30 WIB diisi oleh narasumber penting yakni penulis Buku Islam Pluralis Budhy Munawar Rahman, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) komisi delapan Maman Imanul Haq, dan peneliti senior Setara Institute, Sudarto.

Anggota DPR RI komisi delapan, Maman Imanul Haq dalam diskusinya mengatakan  bahwa mahasiswa zaman sekarang dengan ilmu agama yang rendah namun bersikap seolah-olah seperti ilmu agamanya sangat tinggi. “Mahasiswa zaman sekarang banyak yang menentang ajaran para kyai, itulah yang menjadi penyebab sifat dan sikap intoleran dalam kehidupan kemajemukan ini,” ujarnya.

Hal hampir serupa juga disampaikan oleh penulis Buku Islam Pluralis, Budhy Munawar Rahman. Dia yang juga pernah menjadi sekretaris Nurkholis Madjid selama 12 tahun mengatakan bahwa masyarakat sudah tidak lagi memiliki masalah dengan kemajemukan etnik. Isu itu telah lama diselesaikan oleh masyarakat Indonesia. Namun, yang menjadi permasalahan adalah masyarakat belum bisa menyelesaikan masalah kemajemukan agama. Hal itu yang menjadi poin penting mengapa masih tinggi sifat dan sikap intoleransi

Sedikit berbeda dengan dua narasumber sebelumnya, peneliti senior Setara Institute, Sudarto berpendapat bahwa terdapat tiga faktor yang menyebabkan intoleransi di kemajemukan ini menjadi sangat besar. Pertama, undang-undang yang salah. Terdapat banyak peraturan perundang-undangan yang justru menimbulkan intoleransi. Kedua, aparatur yang galau. Institusi seperti kepolisian sering bingung menentukan sikap karena banyaknya desakan yang terjadi di masyarakat. Ketiga, masyarakat Indonesia yang tidak bisa bertoleransi. Masih banyak diskriminasi yang terjadi di Indonesia karena masyarakat Indonesia sulit untuk bertoleransi. Hal inilah yang menurutnya menjadi penyebab utama intoleransi dalam kemajemukan. “Bertoleransi artinya meyakini yang kita percaya dan menghargai yang dipercayai orang lain,” tegasnya.


(Fathur Alfarizi)
Comments