News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

dr. Malahayati: "Pengendalian Emosi Cegah Terjadinya Stress"

diposting pada tanggal 31 Jan 2018 12.35 oleh Radio RDK UIN Jakarta

Stres merupakan bagian dari kehidupan manusia dan juga merupakan salah satu respons psikologis seseorang. Siapa saja bisa mengalami respons tersebut, tak terkecuali mahasiswa. Saat dihadapkan pada hal-hal yang dirasa sudah melampaui batas atau dianggap sulit untuk dihadapi, mahasiswa terkadang bisa frustasi akibat banyak hal yang terlalu dipikirkan. Tak hanya menghadapi permasalahan internal, melainkan permasalahan eksternal pun turut dirasakan.

Dokter Rumah Sakit Syarif Hidayatullah (RS. Syahid), Malahayati menjelaskan, stres selain dari tekanan, biasanya muncul akibat terlalu sering menggunakan smartphone dan juga biasanya dari beban seseorang. “Untuk stres sendiri, itu tergantung dari pribadi masing-masing. Hal ini karena setiap orang berbeda-beda dalam menyikapinya. Orang yang mudah terkena stres biasanya mereka akan lupa dengan segalanya, seperti lupa dengan tidur dan lupa dengan makan,” jelasnya. Dokter Malahayati berpesan, mahasiswa harus bisa mengendalikan emosi mereka untuk mencegah datangnya stress. Namun mahasiswa yang stres lebih baik membuat sesuatu kegiatan agar stres dapat hilang, seperti jalan-jalan ke tempat yang terbuka contohnya pantai, pegunungan, sawah, dll. “Agar otak sendiri bisa beristirahat dan juga jika stres itu dating, segeralah tidur atau beristirahat dari kegiatan yang membebani pikiran dan biarkan otak beristirahat,” tutupnya.

Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK), jurusan Kesehatan Masyarakat (Kesmas) semester enam, Dilla Rostanti memaparkan, biasanya mahasiswa sering stres karena beban tugas yang banyak dan deadline-nya berdekatan. “Kurang bisa mengatur waktu, akhirnya keteteran dan itu bisa menyebabkan stres. Stres itu timbul salah satunya karena ketidakmampuan seseorang dalam menyesuaikan diri dengan tekanan yang ada,” terangnya. Dilla juga menuturkan, pengaruh stres bisa menyebabkan  berubahnya pola makan, kemudian berakibat kepala mudah pusing, tekanan darah dan peredaran darah juga menjadi tidak teratur karena otak tidak dapat asupan oksigen yang disebabkan oleh stres itu sendiri.

 (Anggara Purissta Putra)

Comments