News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

Fairul Zabadi : Bahasa Indonesia Bisa Menjadi Bahasa Dunia

diposting pada tanggal 28 Nov 2017 16.27 oleh Radio RDK UIN Jakarta
Dr. Fairul Zabadi, M.Pd. sedang memaparkan isi seminar

Dalam rangka puncak kegiatan Olimpiade Bahasa dan Sastra Indonesia (OBSI), HMJ Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) menyelenggarakan Seminar Kebahasaan dengan mengusung tema “Kekayaan Bahasa Indonesia dalam Khazanah Keilmuan di Era Milenial” sejak pukul 12.00 WIB di Aula Student Center (SC) UIN Jakarta. Kegiatan tersebut turut mengundang pembuat aplikasi Tesaurus, Eko Endarmoko, LC, sastrawan Drs. Jamal D Rahman, M.Hum, dan Kepala Bidang Pembelajaran Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Fairul Zabadi, M.Pd.

Dalam seminarnya Dr. Fairul Zabadi, M.Pd mengatakan, bahasa Indonesia bisa menjadi bahasa dunia. Menurutnya, bahasa Indonesia merupakan bahasa yang mudah dipelajari dan dipahami dalam kegiatan sehari-hari. Melalui sebuah penelitian, beberapa orang asing yang diajarkan bahasa Indonesia dan beberapa bahasa negara lain, hasilnya 90% mengatakan bahasa Indonesia lebih mudah dimengerti dan dipelajari. Tetapi bahasa Indonesia akan sulit dipelajari orang asing jika mempelajari bahasa Indonesia secara mendalam.

Mengutip dari Ferguson, syarat sebuah bahasa menjadi bahasa Internasional yakni jumlah penuturnya banyak, bahasa tersebut mudah dipahami, pertumbuhan ekonomi negaranya tinggi, dan adanya dukungan pemerintah terhadap kebijakan bahasa. Fairul menuturkan, peluang bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional karena bahasa Indonesia memiliki jumlah kosa kata yang sangat memadai, kebijakan dan pedoman yang bersifat dinamis dan terbuka, serta digunakan sekitar 259 juta penutur dan sudah diajarkan di 35 negara.

“Indonesia akan mampu menjadi satu kekuatan budaya (global tribe) yang baru di dunia karena memiliki bahasa nasional yang kosakatanya selalu berkembang dan politik bahasanya lebih terbuka,” ungkap Fairul.

Ketua Pelaksana, Wulan Puspasari mengatakan, seminar ini merupakan acara penutup dari rangkaian kegiatan OBSI 2017. Kegiatan ini masih dalam memperingati bulan bahasa yang jatuh tetap pada sebulan yang lalu. Selain itu, kegiatan ini bertujuan untuk mengangkat citra bahasa Indonesia di mata mahasiswa, dan para dosen. Wulan menjelaskan, tema yang diusung sesuai dengan keadaan zaman sekarang, dimana kurangnya perhatian masyarakat terhadap penggunaan diksi bahasa Indonesia yang digantikan dengan diksi bahasa gaul zaman sekarang.

“Saya berharap setelah diadakannya kegiatan OBSI pada tahun pertama ini, akan terus berjalan ditahun-tahun seterusnya, dan membahas lebih dalam sesuai dengan perkembangan bahasa di tahun berikutnya,” ungkap Wulan.

(Naila Fitri)

Comments