News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

Gunung Agung Berstatus Awas

diposting pada tanggal 27 Nov 2017 08.36 oleh Radio RDK UIN Jakarta   [ diperbarui5 Des 2017 10.22 ]
Gunung Agung berstatus Awas
sumber : google

Gunung Agung yang merupakan gunung berapi tipe stratovolcano dan berlokasi di Karangasem, Bali ini telah mengalami status mulai dari ‘Waspada’, ‘Siaga’, kemudian penurunan kembali menjadi ‘Waspada’. Hingga Senin (27/11) kemarin, status Gunung Agung berganti menjadi ‘Awas’.

Dilansir dari kompas.com kenaikan status ini diumumkan Kepala Bidang Mitigasi PVMBG, I Gede Suantika. “Terhitung sejak hari ini, Senin, 27 November 2017, pukul 06.00 WITA, status Gunung Agung dinaikkan dari level III (Siaga), menjadi level IV (Awas),” ungkap Suantika. Menurutnya, ditetapkannya status ‘Awas’ karena dilihat dari tingkat erupsi Gunung Agung yang meningkat dari tipe freatik menjadi magmatik. Selain itu nampak juga terlihat munculnya sinar lava dari puncak Gunung Agung. Gunung dengan tinggi 3.031 mdpl ini terus menyemburkan asap dan abu vulkanik dengan ketinggian mencapai 3.000 meter dari puncak. Tak hanya itu, suara letusan dan dentuman pun juga terdengar sampai radius 12 kilometer.

Senada dengan itu, salah seorang warga yang tinggal tak begitu jauh dari lokasi, Nelda Savella mengaku, ia mendengar suara gemuruh yang berasal dari Gunung Agung. Ia memperkirakan suara gemuruh tersebut dapat didengar sampai radius 7 kilometer. Sementara menurut Nelda, jangkauan magmanya sendiri tak lebih dari 5 kilometer. “Walau begitu, panas yang dihasilkan akibat kejadian ini dapat dirasakan sampai ke daerah-daerah yang berlokasi 25 kilometer dari Gunung Agung,” akunya.

Menyoal aktivitas warga, Nelda mengatakan, seluruh warga yang berlokasi 5 kilometer dari posisi gunung, sudah dievakuasi. Sehingga sudah tidak ada aktivitas selayaknya hari-hari biasa. Namun selain dari lokasi tersebut, warga tetap beraktivitas normal. “Sejauh ini nggak ada korban yang sampai harus dilarikan ke rumah sakit karena terpapar debu vulkanik atau semacamnya. Intinya saya sangat berharap, semoga keadaan di sini lekas membaik agar bisa berjalan normal seperti sediakala,” harapnya.

Sementara itu, mahasiswi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Putri Kumala mengatakan, kendati dirinya belum pernah memijakkan kaki di provinsi tersebut, namun ia turut merasakan kecemasan warga setempat. “Di kampung halaman saya juga ada gunung merapi, inilah sebabnya saya merasa sangat berkaitan dengan posisi yang saat ini dirasakan warga Bali, khususnya Karangasem,” ujar Putri. “Terlepas dari itu semua, saya mendoakan yang terbaik bagi teman-teman yang berada di sana,” imbuhnya.

(Faizah Fitriah)

Comments