News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

Hari Batik Nasional, Warisan Sarat Nilai dari Indonesia

diposting pada tanggal 2 Okt 2017 15.49 oleh Radio RDK UIN Jakarta
Mahasiswa Jurnalistik UIN Jakarta menggunakan batik di Hari batik Nasional

Setiap 2 Oktober, Indonesia merayakan Hari Batik Nasional. Bermula dari ketetapan UNESCO sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi (Masterpieces of the oral and intangible heritage of humanity) yang secara resmi mengakui batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Pengakuan terhadap batik merupakan pengakuan internasional terhadap budaya Indonesia. Dalam bahasa Jawa, batik berasal dari dari dua rangkaian kata, yaitu amba dan tik. Amba yang berarti menggambar atau menulis dan tik yang berasal dari kata titik. Sehingga ambatik yang berarti menggambar titik-titik pada sebuah benda. Pengertian tersebut sudah sesuai dengan kesepakatan Konvensi Batik Internasional yang diselenggarakan di Yogyakarta tahun 1997. Di era modern saat ini, batik telah memiliki banyak inovasi, tidak lagi identik pada selembar kain, batik juga dapat diaplikasikan pada helm, kaca, sepatu, body mobil, aksesoris bahkan cake. Tak lagi sekedar peninggalan sejak zaman Majapahit, batik juga semakin memiliki nilai jual dewasa ini.

Mahasiswa Universitas Pekalongan (UNIKAL) jurusan Teknologi Batik semester lima Sita Ayunda memaparkan, bukan sekedar coretan motif dan warna pada selembar kain, batik sesungguhnya sebuah karya yang sarat akan makna. “Batik itu seperti dinding yang bercerita, setiap motifnya punya makna, pemilihan warna juga bukan sembarangan. Setiap titiknya punya kisah yang kaya.”

Sita menambahkan, batik bukan lagi hal yang dianggap kuno, karna semakin kemari produsen batik semakin terus berinovasi, mulai dari corak sampai pilihan warna dan tentunya teknik produksi yang terus diperbarui tanpa menghilangkan esesnsi aslinya. Sita memaparkan, di kota asalnya Pekalongan, hari batik nasional senantiasa disambut meriah oleh warganya, terbukti dengan diselenggarakannya pameran batik selama sepekan dan karnaval batik tak lupa lomba-lomba inovasi batik.

“Semoga batik terus mendunia, masyarakat Indonesia makin bangga menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari dan mau mempelajari proses pembuatannya, jangan mau kalah sama warga asing yang jauh-jauh ke Pekalongan untuk belajar proses pembuatannya,” tutup Sita.

Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FITK) jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI) semester lima Falah Haidar memaparkan pendapatnya perihal batik. Batik bagi Haidar bukan sekedar kemeja atau kain yang biasa digunakan untuk acara resmi, baginya batik adalah wujud dari kearifan lokal Indonesia. Batik juga sangat erat dengan Indonesia, meski batik bukan satu-satunya kain khas Indonesia. Sebagai warisan budaya, sudah menjadi tugas seluruh lapisan masyarakat untuk merasa memiliki dan menjaga batik agar tidak menjadi bahan klaim oleh bangsa lain.

“Semoga di Hari Batik Nasional ini semakin banyak warga Indonesia yang peduli dan mampu merasakan makna dari setiap coraknya, menjadi semakin cinta dan menumbuhkan keinginan untuk mempelajari batik lebih dalam. Karena batik bukan sekedar warisan klasik bangsa tapi bila mampu mengembangkannya juga punya potensi wirausaha,” ujar laki-laki berkemeja batik motif kawung.

(Syarifatul Adibah) 

Comments