News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

Hari Surat Menyurat Internasional

diposting pada tanggal 9 Okt 2017 13.55 oleh Radio RDK UIN Jakarta

Tak banyak yang tahu, 9 Oktober diperingati warga dunia sebagai Hari Surat Menyurat Internasional. Jauh sebelum kemajuan teknologi berkembang yang memberikan kemudahan komunikasi dalam waktu yang singkat, surat menjadi salah satu alat komunikasi yang akrab dengan kehidupan manusia. Jutaan ribu lembar surat berperangko lalu lalang dari kotak surat satu ke kotak surat lainnya. Terlebih saat hari-hari penting tiba, jutaan ribu kartu ucapan dikirim ke kantor pos untuk dihantar ke sudut bumi yang lain. Di era digital seperti ini, kiranya hanya instansi-instansi tertentu saja yang masih menggunakan jasa pos dalam melakukan pengiriman surat menyurat, fungsi surat mulai digantikan oleh e-mail bahkan aplikasi berbalas pesan yang jauh lebih dekat dengan masyarakat. Diperingati sebagai Hari Surat Menyurat Internasional karena bertepatan pada 9 Oktober 1874 Serikat Pos Dunia atau Universal Pos Union (UPU) resmi didirikan. Pada tanggal 9 Oktober, banyak kantor pos yang merayakannya dengan memproduksi perangko edisi spesial yang saat ini hanya menjadi koleksi para penggemar filateli. Bahkan bekerja sama dengan UNESCO, UPU kerap mengadakan kompetisi menulis surat bagi anak-anak.

Mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) Jurusan Kearsipan semester 5 Alfina Nur Fitriani membagi pengetahuannya perihal sejarah surat menyurat terutama sistem pos, sejak 2000 sebelum masehi, surat menyurat sudah dikenal di Mesir yang media penulisan masih berupa mangkuk, kain linen yang kemudian dibungkus dengan kain, kulit binatang atau pohon untuk dikirim. Sedangkan di Eropa surat menyurat menjadi tradisi dan seni populer pada abad 18 dengan media kertas-kertas unik dan wewangian serta sangat dijaga kerahasiaannya. 

“Sedangkan di Indonesia, tradisi surat menyurat sudah popular sejak zaman kerajaan Tarumanegara, Sriwijaya, dan Majapahit. Dulu menulis masih dilakukan di atas batu, kulit, kayu dan semakin berkembang saat kedatangan bangsa Belanda,” tambah Alfina. Ia berharap, meski terdengar kuno dan ketinggalan zaman tidak ada salahnya generasi milenia mencoba berkomunikasi dengan berkirim surat lewat pos, minimal setahun sekali untuk merasakan euforia dan sensasi menerima surat dari pak pos. “Toh tidak ada salahnya,” tutup Alfina.

Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) semester satu Zahrotun halimah mengaku baru tahu bahwa tanggal 9 Oktober adalah Hari Surat Menyurat Internasional. Mengaku pernah memiliki sahabat pena dari Kepulauan Riau saat masih usia Sekolah Dasar (SD) yang masih berhubungan sampai detik ini meski dengan media yang berbeda, Zahro mengaku sempat merasakan sensasi menunggu dan menerima surat balasan yang dikirim dari pulau berbeda sangatlah menyenangkan, berbeda dengan surat elektronik yang bisa saling berbalas dalam hitungan detik, menerima surat yang diantarkan pak pos diakui Zahro memiliki sensasi dan nilai yang berbeda. 

“Pos kan butuh waktu, makannya setiap ada surat datang rasanya lebih istimewa,” ujar Zahro. Melihat surat menyurat dan jasa tukang pos yang mulai ditinggalkan, Zahro berharap sistem surat menyurat tidak mati terkurung teknologi. "Semoga insan pos Indonesia bisa memberikan inovasi yang membuat masyarakat tertarik dan tak ragu bernostalgia berkirim kabar dengan surat, meskipun ini sulit tapi semoga tradisi surat menyurat tidak pernah mati,” tutupnya.

(Syarifatul Adibah)

Comments