News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

Jangan Sampai Krisis Akhlak

diposting pada tanggal 26 Nov 2017 12.21 oleh Radio RDK UIN Jakarta

Akar masalah yang menyebabkan terjadinya krisis akhlak, salah satunya ialah dampak dari era globalisasi. Kebanyakan manusia tak memfilter adanya dampak globalisasi yang diterima. Kaum-kaum Yahudi sengaja merencanakan melakukan penghancuran pada umat muslim dengan cara westernisasi, ke-korea-an, dan sebagainya. Hal ini dapat mempengaruhi sebagian orang muslim yang tak dapat memfilterasi globalisasi yang merajalela. Sehingga akhlaklah salah satu yang tercemar oleh arus globalisasi ini. Perlahan-lahan dengan tak adanya penyaringan pola pikir dan tingkah laku dari globalisasi, secara tidak langsung itu mencemari akhlak.

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Ninda Aulia mengatakan, tokoh-tokoh non Islam telah dijadikan idola oleh mereka yang terjebak oleh arus globalisasi, sehingga semua tingkah laku sang idola ingin disamakan dengan tingkah laku si penggemar.

Naudzubillahi min dzalik. Di sinilah akar permasalahan umat muslim terjadinya krisis akhlak, karena tak dapat menyaring arus globalisasi yang masuk sehingga tokoh non Islam telah dijadikan idola oleh mereka. Hal ini tentunya akan mengancam para umat muslim maupun muslimah karena jauh dari apa itu Islam. Mereka lalai akan beribadah, mereka lalai akan bermuamalah,” kata Ninda.

Menurutnya, solusi yang tepat untuk menanggapi hal tersebut adalah mendekatkan diri dengan Allah. Ada banyak cara, yaitu dengan bertilawah, mengikuti majelis ilmu, mengikuti kajian Islam secara rutin, dan mengikuti liqo. Liqo adalah salah  satu solusi yang amat tepat karena liqo dijadikan sebagai charge iman. “Ketika iman kita naik, diharapkan menstabilkan dan ketika iman kita turun, diharap dapat menaikkan iman secara optimal,” imbuhnya.

Lebih jauh Ninda menerangkan bahwa dalam liqo ini dapat berdiskusi dan sharing sehingga pola pikir akan terbentuk dan menghasilkan akhlakul karimah. Dengan senantiasa ingat kepada Allah, maka terjawablah semua solusi tersebut. “Jika kita jauh dengan Allah, tercerai berailah akhlak kita, tercerai berailah pola pikir kita sebagai umat muslim dan muslimah,” lanjutnya.

Risman mengatakan bahwa tindakan preventif yang paling tepat dari dampak globalisasi adalah dari orang tua terlebih dahulu. Hal yang pertama diajarkan orang tua kepada anaknya ialah ketauhidan  kepada Allah. Jangan orang lain yang mengajari anak tentang tauhid.

(Radhina Rifa)


Comments