News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

Kasus SetNov Jadi Sorotan Media Barat, Begini Tanggapan Mahasiswa UIN Jakarta

diposting pada tanggal 20 Nov 2017 08.12 oleh Radio RDK UIN Jakarta

Kasus mega korupsi proyek pengadaan electronic KTP (e-KTP) yang melibatkan berbagai pihak, baik dari kursi pemerintahan maupun dari pihak swasta telah merugikan negara setidaknya 2,3 triliun rupiah. Tentunya hal ini membuat masyarakat geram terhadap dalang di balik tindak kejahatan ini. Tersangka yang perlahan mulai terkuak seperti Sugiharto yang merupakan mantan Direktur Pengelola Informasi dan Administrasi Kependudukan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), kemudian Irman yakni atasan dari Sugiharto, serta sederet nama lainnya hingga yang paling anyar Setya Novanto (Setnov). Ketua Fraksi Partai Golkar ini menjadi sangat kontroversial. Sempat ditahan (17/7), Setnov kemudian berhasil dibebaskan pada putusan sidang praperadilan karena status tersangkanya yang dianggap tidak sah oleh hakim tunggal Cepi Iskandar Jumat (29/9) lalu. Kini Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berhasil menahan Setnov kembali dan kasusnya semakin kontroversial, hingga menjadi sorotan media barat.

Disinggung theguardian.com, kasus Setnov disebut-sebut dramatis. Pasalnya Setnov berkali-kali mangkir dari panggilan tim penyidik KPK, hingga kemudian KPK pun membuat sayembara untuk yang melihat sosok Setnov akan dihadiahi reward dengan nominal tertentu. Namun selang sehari dari pengumuman sayembara tersebut, Setnov justru ditemukan, yang menurut theguardian.com terkesan dramatis karena Setnov ditemukan setelah mengalami kecelakaan di bilangan Jakarta Selatan. Menyikapi hal ini, mahasisiwi Psikologi UIN Jakarta, Siti Hodijah berpendapat tentang  foto-foto yang tersebar di internet perihal selang oksigennya yang tak tersambung dan jarum suntik untuk bayi yang ia gunakan.

“Saya belum bisa menyimpulkan dengan pasti kondisi psikis seperti apa yang Pak Setnov alami, yang jelas hal tersebut memang mengundang kecurigaan masyarakat,” tutur Hodijah. Baginya, ada banyak sekali kemungkinan untuk seseorang bisa melakukan hal yang demikian. “Faktor psikis seseorang dipengaruhi oleh keadaan di sekitarnya, kurang lebih begitu yang bisa saya katakan,” ujarnya.

Sementara itu, mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) bernama Ahad Affandi mengatakan, keadaan yang menimpa lelaki berusia 62 tahun itu hanya memperparah kegemasan masyarakat. “Intinya saya hanya berharap pada Setnov, jika memang tidak bersalah sebaiknya dibuktikan saja. Sebaik-baiknya jalan keluar adalah dengan menghadapi, bukan menghindari,” tegas Ahad.

(Faizah Fitriah)

Comments