News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

Kata Mahasiswa Soal Depresi

diposting pada tanggal 6 Agt 2017 06.05 oleh Radio RDK UIN Jakarta
Depresi adalah kondisi dimana seseorang merasa sedih berkepanjangan, putus harapan, tidak punya motivasi untuk beraktivitas, kehilangan ketertarikan dan cenderung menyalahkan diri sendiri. Banyak yang menganggap depresi adalah hal sepele dan bisa hilang sendiri. Padahal, depresi adalah sebuah gangguan yang lebih dari sekedar perubahan emosi sementara. Tanpa penanganan dan pengobatan yang tepat, depresi dapat menganggu hubungan dengan orang sekitar, bahkan tak jarang memicu upaya bunuh diri bagi penderitanya.

Menurut data World Health Organization (WHO), setidaknya 350 juta orang diseluruh dunia mengalami depresi dan lebih dari 800 ribu orang meninggal bunuh diri akibat depresi. Di Indonesia sendiri, bunuh diri akibat depresi menduduki peringkat ke 8 dengan menyumbang 3% dari total angka kematian. 
Banyak penderita depresi yang tidak mengakui kondisi mereka, sehingga tidak dapat penanganan yang serius. Beberapa gejala yang dapat mengidentifikasi seseorang mengalami depresi antara lain ialah sedih berkepanjangan, mudah cemas, merasa tidak lagi memiliki harapan, tidak percaya diri dan berperilaku sangat sensitif. Pengobatan untuk seseorang yang mengalami depresi pun tidak bisa sembarangan, karena harus sesuai dengan kategori depresi yang sedang dialami.

Menurut mahasiswa Fakultas Psikologi semester 8, Khotimah menjabarkan, gangguan depresi dalam psikologi bukanlah sekedar perasaan sedih biasa, melainkan merupakan kesedihan dan merasa tidak berarti yang berlangsung secara terus menerus. “Depresi juga merupakan penyakit yang kompleks, tidak hanya mental tapi fisik penderita juga ikut terpengaruh, tidak hanya sekedar memberikan obat, penderita depresi juga harus mengikuti terapi untuk upaya penyembuhan,” jelas Khotimah.

Lebih dalam Khotimah memaparkan, depresi bukan pertanda dari kelemahan seseorang atau kondisi yang dapat dihilangkan begitu saja hanya dengan kemauan yang kuat. Pendertita depresi tidak dapat keluar dari situasi yang dialaminya sendiri. Mereka butuh pendampingan, pengobatan dan terapi yang serius untuk melewati masa ini. Tanpa penanganan yang serius, menurut Khotimah, depresi dapat berlangsung selama berminggu-minggu, bulan, bahkan hitungan tahun.

Sepakat dengan Khotimah, mahasiswa Fakultas Ushuludin, Nayara Rizkiana memaparkan, depresi bukan gangguan ringan yang dapat sembuh seiring berjalannya waktu. “Pengidap depresi butuh tempat untuk berbagi masalahnya dengan baik, terkadang yang membuat seseorang mengalami depresi bukan seberapa besar masalah yang dialami, namun sekedar seseorang tidak dapat menemukan tempat untuk membagikan masalah,” ungkap Naya.

Menurut Naya, seseorang yang depresi selain membutuhkan pengobatan dan terapi juga membutuhkan lingkungan yang tepat. “Misalnya berada diantara orang-orang yang menyayanginya, sehingga seseorang yang mengalami depresi selalu mendapatkan energi positif dari interaksi yang tercipta,” tutur Naya.
Naya memaparkan, tak jarang penderita depresi yang tidak ditangani berujung dengan aksi bunuh diri. Oleh karena itu, untuk menghindari depresi yang berujung pada aksi bunuh diri Naya berpendapat seseorang yang sedang dalam masalah seharusnya bukan dikucilkan namun diberi stimulan hal positif dari orang-orang terdekat agar mampu bangkit dari keterpurukan.

Syarifatul Adibah
Comments