News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

Kejanggalan Terbakarnya Pabrik Mercon di Kosambi

diposting pada tanggal 29 Okt 2017 14.18 oleh Radio RDK UIN Jakarta
Kondisi pabrik mercon di Kosambi Tangerang usai terjadi ledakan
Source : Kompas.com

Suara ledakan kembang api di gudang pabrik mercon milik PT Panca Buana Cahaya menghebohkan warga Kosambi Tangerang, Banten. Kejadian yang terjadi pada Kamis (26/10) lalu tersebut membakar habis gudang dan kejadian tersebut masih penuh tanda tanya. Dilansir dari kompas.com, pihak kepolisian hingga kini belum bisa menyimpulkan apa penyebab pasti pabrik itu dilalap si jago merah. Tim Pusat Laboratorium Forensik Polri telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan membawa beberapa barang bukti untuk mencari tahu apa pemicu kebakaran yang menewaskan kurang lebih 47 orang itu.

Selagi penyebab kebakaran belum diketahui, sejumlah kejanggalan dalam peristiwa tragis itu pun ikut muncul kepermukaan. Kondisi pabrik mercon  saat terjadinya kebakaran masih simpang siur. Sejumlah saksi mengatakan, kondisi pintu utama pabrik terkunci saat kobaran api melahap bangunan itu. Selain permasalahan pintu yang terkunci, polemik mengenai adanya korban yang masih berusia dibawah umur menjadi perbincangan hangat. Pada awalnya, polisi meyakini tidak ada korban yang berusia dibawah umur. Padahal, Komisioner Komnas HAM, Siane Indriane menemukan ada salah satu korban di RSU Kabupaten Tangerang, masih berusia 15 tahun.

Dengan adanya polemik atas terjadinya kejadian yang menewaskan banyak orang, mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Jakarta, Syanindia Annisa yang kerap di sapa Syanin beranggapan,  mempekerjakan anak di bawah umur oleh pabrik petasan dengan gaji perhari sebesar Rp 40.000,00 menurutnya tak manusiawi. Hal ini bisa berdampak pada terganggunya perkembangan kesehatan fisik dan mental, kerusakan pada sistem syaraf, rendahnya kapasitas intelektual, daya ingat lemah, dan berdampak terhadap perkembangan emosi anak.

Selain itu juga memungkinkan terjadinya eksploitasi, berbahaya untuk keselamatan, merendahkan martabat, derajat dan terisolasi, tidak mendapat kesempatan untuk melakukan kegiatan seperti bermain, pergi kesekolah dan bersosialisasi dengan teman sebanyanya, tidak mendapat pendidikan dasar yang diperlukan untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan, tidak mendapat kesempatan untuk berinteraksi dengan teman sebayanya. Syanin menambahkan, anak sebagai potensi dan generasi muda berkewajiban untuk meneruskan cita – cita perjuangan bangsa dan menjamin eksistensi bangsa dimasa depan. Untuk mewujudkan cita – cita tersebut merupakan kewajiban dan tugas generasi sebelumnya untuk memberikan pengarahan, pembinaan dan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada anak-anak untuk maju dan berkembang

Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) Jurusan Ilmu Hukum bernama Tri Dodi Setyawan mengatakan, negara Indonesia sudah mengatur undang-undang tentang ketenagakerjaan dengan berbagai persyaratan yang berlaku dan sudah diatur oleh negara, salah satunya untuk anak yang berumur antara 13 hingga 15 tahun hanya  dapat dipekerjakan untuk pekerjaan ringan sepanjang tidak mengganggu tumbuh dan kembang anak.

“Dengan adanya kejadiannya ini menjadi pembelajaran untuk masyarakat, mengambil hikmahnya, dan tentu menjadi PR atau tugas untuk negara tentang makna kesejahteraan sosial untuk masyarakat Indonesia, tanggap Tri.

(Shari Ayu)

Comments