News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

Kelas Gender dan Anak oleh PSGA UIN Jakarta

diposting pada tanggal 19 Apr 2017 15.17 oleh Radio RDK UIN Jakarta

Kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan dan anak-anak seringkali terjadi di Indonesia. Padahal, perempuan dan anak adalah salah satu modal bagi pembangunan sosial. Masih rendahnya kesadaran atas gender dan hak anak di Indonesia, membuat Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Jakarta kembali menggelar kelas gender dan anak tahun ini. Kelas gender dan anak yang sudah memasuki tahun ke empat ini membuka pendaftaran bagi civitas akademika UIN yang berminat sejak 11 sampai 24 April mendatang. Hanya membuka untuk  40 peserta, formulir dapat diisi langsung di  kantor PSGA gedung rektorat lantai satu atau mengakses website PSGA di psga.uinjkt.ac.id. Pengumuman peserta yang beruntung akan diinformasikan pada 28 april mendatang.

Koordinator bidang gender PSGA UIN Jakarta, Nur Maya Arofah mengungkapkan, pada kelas gender dan anak akan banyak materi-materi dasar soal sejarah gender dan perlindungan anak yang disampaikan oleh berbagai pemateri kompeten, baik dari dosen UIN sendiri maupun pemateri dari Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak (KPPA). “Latar belakang diadakannya kelas ini salah satunya adalah melihat isu gender dan anak yang sudah menjadi isu global serta menyeimbangkan kesetaraan dan fungsi sosial perempuan dan anak dalam interaksinya dimasyarakat,” tambah Maya. Maya melihat, masih banyaknya masyarakat yang belum paham benar arti gender dan  aplikasinya pada masyarakat.

Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) Jurusan Kesejahteraan Sosial (Kessos) semester 2, Salsabila Hanifah mengaku tertarik mengikuti kelas gender dan anak. “Saya tertarik untuk mengikuti kelas ini, mengingat akan banyak ilmu baru tentang anak dan gender yang didapatkan sebagai bekal sebelum terjun ke lapangan sebagai pekerja sosial nanti,” ungkap perempuan yang disapa Hani tersebut. Hani menambahkan, sangat setuju terhadap diadakannya kelas gender dan anak ini, melihat masih kentaranya diskriminasi terhadap perempuan dan anak di masyarakat. Hani pun berharap, mahasiswa yang ikut kelas gender dapat lebih peduli terhadap isu gender dan anak lalu membagikan ilmunya serta mengaplikasikannya kepada masyarakat.
Syarifatul Adibah

Comments