News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

Kembali, Diskusi Membahas Kendeng Diadakan Oleh Mahasiswa

diposting pada tanggal 30 Mar 2017 07.24 oleh Radio RDK UIN Jakarta
Saung diskusi membahas Kendeng yang diadakan di taman Fdikom

Sikap mahasiswa terkait kasus petani Kendeng yang sedang menjadi polemic, bahkan semakin berkembang dari waktu ke waktu, terus saja timbul dari berbagai tempat dan cara. Beberapa waktu lalu, terdapat aksi mengecor kaki dari anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kelompok Mahasiswa Pecinta Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan (KMPLHK) Ranita yang meniru aksi dari para petani Kendeng. Selain itu, muncul kegiatan istighasah di lobby Fakultas Ushuluddin yang bertujuan mendo'akan para petani di kendeng.

Kegiatan yang paling hangat adalah diskusi-diskusi dari beberapa fakultas layaknya Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip). Melihat fenomena tersebut, Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) juga menggelar diskusi serupa bertajuk “Menyoal Sengketa Tanah Kendeng ; Petani Melawan Koalisi Koorporasi dan Pemerintah di Taman Fdikom dari pukul 17.00 hingga maghrib tiba. Diskusi tersebut adalah bagian dari program kerja Dema Fdikom bernama saung diskusi.

Salah satu pembicara dalam diskusi yang merupakan pembina di laman internet binanalar.com, Melqy Marhaen memaparkan, hampir seluruh cuitan dan sikap netizen di media sosial menyatakan respons yang serupa. Semua mendukung aksi petani Kendeng yang merugikan masyarakat pegunungan. Melqy mengatakan, Presiden Joko Widodo berencana menaikkan pangsa pasar sebesar 2,7 persen, karena itu merupakan salah satu program nawacita yang digagas presiden. Maka dari itu, pikir Melqy, pemerintah melakukan berbagai cara agar target itu dapat terwujud, salah satunya membangun pabrik semen di daerah Kendeng, daerah yang kaya akan hasil tambang dan air nya. “Hampir setiap pemimpin di Indonesia hanya melihat wilayah yang ada sebagai komoditas,” tegas mahasiswa semester 10 Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam tersebut.

 

Pernyataan juga dilontarkan oleh salah satu anggota UKM KMPLHK Ranita, Fika Rakhmalinda. Wanita berkacamata bulat ini mengatakan, Kendeng merupakan kawasan yang kaya akan karst, batu-batu gampang, dan karbonat. Sehingga, memang sangat ideal jika dijadikan proyek oleh perusahaan semen. Namun, ungkap Fika, pembuatan pabrik semen di daerah Pegunungan kendeng tidak semata-mata tentang bahan tambang, melainkan di daerah tersebut terdapat pemukiman, agama, budaya, dan lainnya, yang jika diganggu keberadaannya akan menyusahkan masyarakat sekitar.

“Apakah mahasiswa hanya mau diam saja menyikapi kasus yang ada di kendeng ini? Karena jika bukan mahasiswa lagi yang membantu masyarakat Kendeng, maka selamanya tidak akan terbela hak-hak mereka,” tegas Fika.

(Fathur Alfarizi)

Comments