News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

Konferensi Internasional: Beyond Coexsistence in Plural Societies

diposting pada tanggal 10 Jul 2017 07.55 oleh Radio RDK UIN Jakarta   [ diperbarui11 Jul 2017 09.21 ]
Prof. Dr. Dede Rosyada, M.A, membuka konferensi internasional di Auditorium Harun Nasution

Indonesia lahir sebagai negara yang kaya raya, jutaan pulau, ribuan kilometer garis pantai membuat Indonesia kaya akan ragam budaya. Berbagai macam suku, adat istiadat dan agama hidup berdampingan di dalamnya. Sebagai negara yang memiliki masyarakat majemuk, tentu bukan hal yang mudah dalam menciptakan stabilitas Negara, pemerintah dan masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama dalam mewujudkan hal tersebut agar tercipta kondisi yang koeksistensi. Tidak hanya untuk negara Indonesia koeksistensi juga dibutuhkan antar negara di dunia. 

Hal ini rupanya disadari oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LP2M) UIN Jakarta. Menggandeng Contending Modernities University of Notre Dame, pusat penelitian yang fokus terhadap isu-isu kompleks yang dihadapi masyarakat plural,  LP2M UIN Jakarta menyelenggarakan konferensi internasional yang bertajuk Beyond Coexsitence in Plural Societies di Auditorium Harun Nasution, Senin (10/7). Dibuka oleh rektor UIN Jakarta, Prof. Dr. Dede Rosyada, M.A., konferensi  international dihadiri oleh lebih dari 200 peserta. Pembicara-pembicara hebat dihadirkan pada konferensi internasional ini, terhitung 13 pembicara hebat dari berbagai negara dihadirkan.

Rektor UIN Jakarta, dalam sambutannya memaparkan, Indonesia identik dengan toleransi, masyarakat majemuk, masyarakat mayoritas muslim dan pluralitas. “Toleransi di negara Indonesia menjadi hal yang serius sehingga kehadirannya membutuhkan regulasi dari pemerintah, masyarakat yang terdiri dari berbagai suku menjadikan koeksistensi adalah hal yang harus mulai dipikirkan untuk negara ini dan koeksistensi dapat mewujudkan stabilitas negara dan kehidupan yang harmonis,” tambah Rektor. Rektor mengaku, UIN Jakarta lahir sebagai universitas yang menjunjung tinggi koeksistensi, hal ini terwujud dari keterbukaan UIN Jakarta dalam menerima mahasiswa non islam dalam menuntut ilmu disini meskipun identik dengan universitas berbasis agama. “Tak hanya itu UIN Jakarta juga sejak lama menerima mahasiswa dari luar negeri untuk ikut belajar,” sambung Rektor.

Key note speaker konferensi internasional, Ebrahim Moosa dari Univesity of Notre Dame memaparkan, konferensi ini tidak hanya bertujuan untuk menghadirkan para ilmuwan dalam contending modernities dan LP2M UIN Jakarta saja, tapi lebih dalam untuk mengupayakan dialog antar pemimpin ditingkat nasional terkait tema kehidupan masyarakat plural. “Konferensi ini diharapkan mampu membangun hubungan dan kerjasama yang produktif antara berbagai pihak secara optimal,” tutur Ebrahim. Pada kesempatannya Ebrahim moosa mengungkapkan, komunikasi antar dua orang layaknya sebuah labirin, banyak jalan tak terhitung yang tidak diketahui, oleh karena itu butuh kesempatan duduk bersama dalam upaya menyamakan penilaian sehingga tidak menimbulkan konflik.­

Syarifatul Adibah

Comments