News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

Manajemen Perjalanan, Catatan Penting Para Petualang

diposting pada tanggal 8 Nov 2017 17.52 oleh Radio RDK UIN Jakarta
Cakar sedang menerima materi manajemen perjalanan

Keinginan untuk bertualang di alam terbuka membuat penggiatnya berlomba-lomba melakukan berbagai macam perjalanan, mulai dari mendaki gunung, menyusuri pantai, mengarungi sungai, susur goa hingga menjajaki kerasnya batu tebing. Melakukan sebuah perjalanan tentu tidak bisa dilakukan begitu saja, terdapat berbagai proses penting manajemen perjalanan, demi menciptakan suasana perjalanan yang menyenangkan dan meminimalisir resiko yang mungkin timbul selama perjalanan, hal ini yang disampaikan Aminullah selaku pemateri kepada Calon Keluarga Arkadia (Cakar) 2017 pada Geladak Rabu (8/11)  sore kemarin di gedung Perpustakaan Umum lama. Disusul materi manajemen bencana oleh ketua umum Arkadia, beberapa hari sebelumnya Cakar telah menerima materi manajemen Organisasi dan ke-Arkadiaan. Pemberian materi pada Geladak 2017 ini akan terus berlangsung sampai 15 Desember 2017.

Aminullah pada pembahasannya menyampaikan, manajemen perjalanan bersifat amat penting, persiapan ini berguna bagi petualang untuk menekan resiko yang ditimbulkan. Dirinya menambahkan, sangat tidak disarankan melakukan perjalanan dengan hanya modal nekat dan tanpa persiapan yang matang. Dalam sebuah perjalanan menurut lelaki yang akrab disapa Anca ini terdiri dari pra perjalanan, perjalanan, dan pasca perjalanan.

“Sama seperti menulis berita, rumusan dari perjalanan adalah 5W+1H. what berarti, perjalanan yang dilakukan harus jelas, mulai dari konsep, tema, jangan sampai perjalanan naik gunung hanya sekedar untuk menaikan popularitas di media sosial belaka, lebih baik lagi bila disertai kegiatan kemanusiaan seperti bakti sosial, sunatan masal mungkin?” papar Anca panjang.

Tidak hanya jenis kegiatan, Anca menambahkan, lokasi serta waktu perjalanan juga harus tepat. Usahakan berada pada waktu terbaik lokasi perjalanan untuk meminimalisir resiko yang terjadi. Tim yang hebat juga menjadi unsur penting dalam suatu perjalanan, memenuhi rumusan Who, orang-orang yang mau bekerjasama dan bertanggung jawab sangat dibutuhkan dalam menciptakan suasana perjalanan yang menyenangkan. Tak hanya itu, Why alasan dalam sebuah perjalanan haruslah kuat, hal ini yang nantinya menjadikan sebuah perjalanan memiliki makna yang lebih mendalam.

Ketua pelaksana Geladak 2017 Ahmad Chairi memaparkan, dimulai sejak 3 November lalu materi yang akan diberikan kepada Cakar tidak berhenti sampai manajemen perjalanan dan bencana saja, tapi juga mendalami 5 divisi kepetualangan di Arkadia, fotografi jurnalistik, sosiologi masa dan diselingi praktik setiap 2 minggu sekali.

“Dengan penyampaian materi-materi terutama manajemen perjalanan, saya berharap Cakar dapat lebih paham dan menguasai pondasi dasarnya, sehingga saat Geladak usai dan mendapat materi sebagai anggota muda Arkadia tinggal menyabung tidak perlu mengulang dari awal. Materi yang diberikan juga diperuntukan membentuk sikap Cakar, attitude dan bagaimana menjadi seorang Arkadia,” papar lelaki yang akrab disapa Boceng.

Saat disinggung soal tragedi setahun silam yang sempat menggemparkan kalangan mahasiswa, di mana kasus kematian seorang mahasiswa pecinta alam pada proses pendidikan yang menjadi buah bibir, Boceng tersenyum kecut. Bagi Boceng, sistem pendidikan yang keras dan cenderung menindas sudah tidak pantas lagi dilakukan pada zaman ini. Meski sadar kelompok mahasiswa pecinta alam identik dengan pendidikan yang keras, Boceng mengaku Arkadia memiliki SOP dalam menerapkan pendidikannya, hal-hal buruk yang menimpa beberapa mahasiswa pecinta alam diduga disebabkan oleh oknum tertentu yang menjadikan pendidikan sebagai ajang perpeloncoan.

“Masih banyak cara yang bisa dilakukan untuk membentuk karakter calon anggota tanpa mengurangi esensi dari pendidikan. Kekerasan pada zaman sekarang sudah tidak mempan, yang ada calon anggota malah berguguran. Pendidikan yang diberikan seharusnya sesuai dengan zaman, seperti apa yang pernah dipesankan khalifah didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup pada zaman yang berbeda denganmu,” ujar laki-laki berambut gimbal ini.

Boceng menambahkan, latihan fisik tetap diberikan, karena hal ini sangat penting dimiliki oleh kelompok mahasiswa pecinta alam, namun yang bentuknya membangun bukan sebagai punishmen. Yang terpenting menurut Boceng, adalah bagaimana meraka bisa saling menghargai dan saling membangun mental, serta menanamkan doktrin positif dan selalu mencontohkan hal yang baik.

(Syarifatul Adibah)

Comments