News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

Mari Berkenalan dengan Perempuan Muslim Pertama Peraih Noble

diposting pada tanggal 18 Des 2017 16.12 oleh Radio RDK UIN Jakarta

Siapa yang tak kenal dengan penghargaan paling bergengsi dan prestise bagi kalangan ilmuwan dunia, The Noble Prize? Penghargaan yang diambil dari nama seorang ilmuwan asal Swedia, Alfred Bernhard Noble ini selalu diadakan setiap tahun pada Oktober. Penghargaan ini mencakup pada bidang Fisika, Kimia, Fisiologi atau Kedokteran, Sastra, Ekonomi serta Perdamaian. Seperti dilansir dari Merdeka.com, hingga 2012 lalu, total muslim peraih penghargaan Noble ada sebanyak 10 orang.

Lantas, siapakah perempuan muslim pertama yang menyabet penghargaan ini? Dia adalah Shirin Ebadi, seorang Hakim dan juga aktivis yang memperjuangkan hak-hak asasi manusia, terutama wanita dan anak-anak di Iran. 10 Oktober 2003, dirinya dianugerahi The Noble Prize untuk cakupan Perdamaian. Selain sebagai Hakim, Aktivis, Pengacara dan Jurnalis, Shirin juga merupakan sosok ibu dengan dua anak perempuan. Kini, wanita berusia 70 tahun tersebut tetap aktif dalam serangkaian konferensi terkait Hak Asasi Manusia (HAM), hak wanita dan juga anak-anak. “HAM adalah standar universal. Ini adalah bagian dari setiap agama dan setiap peradaban,” ungkapnya.

Sementara itu, mahasiswi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Almira mengungkapkan kekagumannya pada siapa saja, terlebih lagi wanita, yang sangat berani menyuarakan haknya. “Bagi saya, kebenaran baru bisa diungkapkan bila keberanian menyertainya. Bagaimana mau speak up kalau tidak berani? Shirin merupakan aktivis, namun tetap, ia juga seorang Ibu yang lembut,” ujarnya. Menurutnya, mendekati momen Hari Ibu seperti ini, memang sebaiknya sosok Ibu inspiratif seperti Shirin Ebadi harus kembali didengungkan. “Saya yakin, ada banyak Ibu-ibu yang menginspirasi di luar sana untuk memotivasi kami kaum perempuan,” tandasnya.

(Faizah Fitriah)

Comments