News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

MCC Gelar Internal Debate Competition

diposting pada tanggal 1 Apr 2017 06.23 oleh Radio RDK UIN Jakarta
Juara satu dan best speaker MCC Internal Debate Competition
Source : Instagram mcc_uinjakarta

Telah menjadi acara tahunan, Moot Court Community (MCC) Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Jakarta, Kamis (30/3) dan Jumat (31/3) kemarin menggelar Internal Debate Competition. Kegiatan ini diikuti oleh 17 tim dengan masing-masing tim yang terdiri dari tiga peserta. Mengusung tema “Penegakan Hukum dengan Semangat Religiusitas Sesuai Pancaran Pancasila”, tiap tim mewakili masing-masing jurusan, lembaga otonom (LO) maupun lembaga semi otonom (LSO) yang ada di FSH. Hadiah yang diberikan pada pemenang pertama berupa uang tunai Rp 1.000.000, piala bergilir, serta sertifikat. Sedangkan juara dua mendapat uang tunai Rp 700.000, piala dan sertifikat, dan  speaker terbaik mendapat beasiswa selama satu semester.

Ketua pelaksana Internal Debate Competition MCC 2017, Muhammad Dedi Kurniawan mengungkapkan, berbeda dengan internal debate sebelumnya, internal debate kali ini berjalan mandiri atau tidak bekerjasama dengan pihak fakultas. Materi yang diperdebatkan terkait isu-isu hangat mengenai universitas seperti Uang Kuliah Tunggal (UKT), hingga isu-isu dunia politik lainnya.

“Melihat minat mahasiswa yang semakin besar terhadap debate competition, saya berharap kompetisi ini dapat meningkatkan sikap kritis mahasiswa terhadap isu-isu yang beredar, berdasarkan teori dan dasar hukum yang kuat,” katanya.

Dedi juga berharap, dengan adanya debat ini dapat menciptakan situasi diskusi yang baik mengingat sebagai calon pekerja di bidang hokum, wajib memiliki kemampuan verbal yang sempurna. Ia mengaku, kendala yang dihadapi terletak pada beberapa juri yang membatalkan jadwal secara tiba-tiba pada hari H. Namun hal tersebut dapat diatasi dengan bersedianya pembimbing dan senior MCC dalam menggantikan posisi tersebut.

Peserta debat yang timnya masuk dalam babak semifinal, Neng Rahmi Diyani mengatakan alasannya dalam mengikuti kompetisi ini adalah karena dirinya menjadikan debate internal sebagai batu loncatan, untuk mengikuti kompetisi debat hukum yang lebih tinggi tingkatnya nanti. Materi debat yang dihadirkan pun dapat menambah tingkat kepekaan dan ilmu pengetahuan mahasiswa terhadap isu-isu terhangat dengan mengulik pro kontra, dasar hokum, dan latar belakang kasus. “Saingan terberat diantaranya adalah mantan delegasi Brawijaya Law Fair tahun lalu,” imbuh Rahmi.

(Syarifatul Adibah)

Comments