News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

MCC Sabet Juara Pertama Pada Peradilan Semu MK

diposting pada tanggal 23 Okt 2017 17.29 oleh Radio RDK UIN Jakarta
Delegasi MCC foto bersama usai melaksanakan lomba

Moot Court Community (MCC) yang merupakan sebuah Lembaga Semi Otonom (LSO) dan berada di bawah naungan Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), Minggu (22/10) lalu berhasil memboyong piala juara pertama pada Perlombaan Peradilan Semu Mahkamah Konstitusi (MK). Perlombaan yang bertempat di ruang persidangan MK ini diikuti oleh 12 universitas terpilih dari 45 universitas yang mendaftar. Sementara itu, delegasi UIN Jakarta berhasil melesat maju hingga ke tahap final yang menyisihkan tiga universitas.

Ketua MCC, M. Eddy Kurniawan Achmad mengatakan, fokus dari MCC sendiri secara garis besar adalah kajian sidang semu yang terdiri dari sidang pidana, perdata dan tata negara. Terkait perlombaan ini, Eddy mengaku sudah mengikuti sejak 2016 dan di tahun ini MCC berhasil membawa pulang predikat juara pertama.

“Tahun lalu, kami kalah di babak penyisihan. Alhamdulillah di tahun ini kami bisa mendapat juara utama. Nantinya, MCC akan terus mengirim delegasi di tahun-tahun yang akan datang,” papar Eddy.

Sementara itu, anggota MCC yang menjadi delegasi, Muhammad Rizki Ramadhan mengatakan, kendati MCC belum disediakan ruang diskusi yang memadai oleh pihak fakultas, namun hal ini tak menyurutkan semangat anggota MCC dalam mempersiapkan diri guna menghadapi perlombaan. Persiapannya pun tidak main-main, yakni sekitar satu tahun. Terkait mekanisme perlombaan, diawali dengan pemohon membacakan pokok-pokok permohonan selama tiga menit, kemudian selanjutnya terdapat pemberi keterangan yang juga diberikan waktu tiga menit.

“Selanjutnya pemohon akan mendatangkan ahli untuk mendukung keterangannya, pihak pemberi keterangan juga melakukan hal yang sama. Di sini ada dua kampus yang bertarung, baik sebaga pemohon maupun pemberi keterangan,” papar Rizki. Ia menambahkan, pihak pemohon dan pihak pemberi keterangan serta majelis MK akan bertanya satu sama lain kepada ahli, dan ahli wajib memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Lebih lanjut ia mengatakan, penjurian dilakukan oleh majelis hakim MK, yakni orang-orang yang kredibel di bidangnya, ada seorang advokat, seorang dosen terkemuka serta mantan hakim MK. Rizki berharap agar tonggak estafet bersejarah ini dapat dilanjutkan oleh generasi berikutnya.

“Pada dasarnya, dengan kita mendapatkan piala bergilir ini, pasti banyak juga universitas lain yang ingin mendapatkan piala ini,” tutupnya.

(Faizah Fitriah)

Comments