News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

Mengenal Hikmah dan Makna Tahun Baru Islam

diposting pada tanggal 24 Sep 2017 11.26 oleh Radio RDK UIN Jakarta
Karnaval perayaan tahun baru Islam
source : tribunnews.com

Tahun Baru Hijriah adalah salah satu hari besar bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia. Peringatan yang hadir setiap setahun sekali itu untuk mengenang peristiwa hijrahnya Rasulullah Saw dan para pengikutnya dari Mekkah menuju Madinah. Tahun Baru Islam 1 Muharram mempunyai arti bulan haram atau pun bulan suci dan Perayaan Tahun Baru Hijriah jatuh pada tanggal 1 Muharam (kalender Arab), 1 Suro (kalender Jawa) atau pada 21 September 2017 menurut kalender masehi.

Kondisi dan situasi Kota Mekah pada saat itu sudah tidak aman dan nyaman lagi untuk syiar Islam. Maka Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad Saw beserta sahabat untuk hijrah ke Madinah dari Kota Mekah. Hijrahnya nabi dan sekelompok sahabatnya ke Madinah bukan berarti pengecut, pergi ke Madinah meninggalkan umatnya di Mekah untuk mencari selamat. Hijrah bisa dimaknai mundur selangkah untuk mencapai kemenangan. Kenyataannya, di Madinah nabi berhasil membangun konsolidasi umat yang pada saatnya kembali merebut Kota Mekah dengan sangat mencengangkan. Bagaimana mungkin revolusi besar terjadi tanpa setetes darah, itulah Fathul Makkah. Dengan begitu, perubahan perilaku manusia memerlukan ikhtiar yang diawali niat, termasuk memaknai pergantian tahun baru Islam 1 Muharram 1439 Hijriyah.

Menurut Mahasiswi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) jurusan Pendidikan Bahasa arab semester tiga, Fitrianah mengungkapkan makna dan hikmah datangnya tahun baru Islam satu Muharam 1439 Hijriah sebagai peristiwa hijrah. Hal ini juga dapat dimaknai sebagai cermin perjuangan untuk memperbaiki kehidupan yang disertai keberanian, perjuangan, dan sifat rela berkorban seperti yang dicontohkan Rasulullah Saw. Fitri menambahkan, pergantian tahun hendaknya dapat membuahkan perubahan dalam perilaku seorang muslim dari tahun sebelumnya, pergantian tahun harusnya membawa makna perubahan, yakni mampu menghijrahkan diri pribadi untuk hidup yang lebih baik serta diridhoi Allah SWT.

Dengan pergantian Tahun Baru Islam, diharapkan seseorang dapat meninggalkan kebiasaan, ataupun perilaku buruk. Jika pada tahun sebelumya, kadar ibadah dan amaliah belum baik, maka pada tahun baru ini hendaknya harus lebih baik,” ungkapnya.

Sementara Menurut Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Satria Haekal mengungkapkan, dipilihnya peristiwa hijrah sebagai momentum penanggalan Islam karena beberapa pertimbangan, antara lain dalam Alquran sangat banyak penghargaan Allah bagi orang-orang yang berhijrah, masyarakat Islam yang berdaulat dan mandiri baru terwujud setelah ke Madinah, dan umat Islam sepanjang zaman diharapkan selalu memiliki semangat hijriah, yaitu jiwa dinamis yang tidak terpaku pada suatu keadaan dan ingin berhijrah kepada kondisi yang lebih baik daripada sebelumnya.

Penanggalan Islam dipilih konteks hijrah nabi, bukan milad yang sekaligus tahun kematian nabi, bukan pula momentum turunnnya Alquran yang sekaligus pelantikannya sebagai nabi dan rasul. Ini membawa hikmah lebih besar bahwa konsep dan spirit hijrah sarat berisi pesan kemanusiaan. Bila di suatu tempat kemerdekaan beriman dan berekspresi sulit berkembang, dimungkinkan untuk hijrah. Namun, tidak mesti harus hijrah fisik, tetapi bisa tetap di tempat fisik, namun suasana batin dan jalan pikiran yang harus berubah. Bagaimana mentransformasikan diri dari suatu kondisi yang tidak kondusif mengembangkan ekspresi keberimanan kita lalu hijrah ke kondisi lain yang lebih kondusif untuk hal tersebut.

(Shari Ayu) 

Comments