News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

Menjawab Perayaan Valentine's Day, Begini Islam Memandang

diposting pada tanggal 14 Feb 2018 11.25 oleh RDK FM UIN Jakarta

Hari Kasih Sayang atau Valentine’s Day yang jatuh pada 14 Februari sudah banyak diketahui masyarakat. Namun bagi umat Muslim ternyata perayaan Valentine’s Day itu dilarang. Sebab jika dilihat dari fakta yang ada, tidak sedikit yang memanfaatkan momentum hari tersebut sebagai ajang berlomba dalam zina. Oleh sebab itu Islam sendiri tidak memperkenankan umatnya untuk merayakan hari tersebut.

Ketua Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Syahid, Abdus Somad menerangkan, Islam sudah mengajarkan umatnya untuk saling berkasih sayang sesama manusia. Namun dalam sejarahnya, Valentine’s Day sendiri merupakan peristiwa dibunuhnya seorang pendeta terkenal yang bernama Valentino. Ia dibunuh karena menentang Kaisar Claudius II yang melarang pernikahan pemuda. Oleh sebab itu, masyarakat romawi memperingati 14 Februari ini sebagai perayaan terbunuhnya Pendeta Valentino. Abdus juga menyampaikan, di hari tersebut juga diperingati sebagai Hari Kondom  Internasional di Amerika Serikat. Dirinya juga mengulas balik bahwa setelah terbunuhnya Pendeta Valentino, masyarakat romawi merayakan 14 Februari dengan menaruh beberapa kertas berisi nama-nama laki-laki dan perempuan dalam wadah berbeda. Kemudian diundi, lalu nama yang terambil tersebut akan digunakan sebagai pasangan untuk berzina.

“Maka jika ada umat Islam yang mengikuti tradisi-tradisi bangsa jahiliyah sangat fasih, seperti yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah, setiap umat mempunyai hari rayanya masin-masing dan hari raya tersebut merupakan syariat. Jadi jika ada umat Islam yang merayakan Valentine’s Day, maka dirinya otomatis mengikuti jalannya agama mereka,” terangnya. Mahasiswa yang juga mengenyam pendidikan di jurusan Imu Quran dan Tafsir (Iqtaf), Fakultas Ushuluddin (FU) ini berpesan, sebagai manusia sudah menjadi tugas sesama Muslim untuk saling mengingatkan bahwa Valentine’s day itu dilarang dalam Islam, dan jika ada seseorang yang belum paham maka tugas Muslim adalah menjelaskannya.

Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom), Konsentrasi Jurnalistik semester dua, Yogi Permana menjelaskan, dirinya tidak setuju dengan adanya perayaan ini. Karena menurutnya, kata valentine day itu tidak tepat, sebab nama tersebut berasal dari kata Valentino yang merupakan pendeta yang terbunuh. “Jika di hadist sudah dijelaskan bahwa umat Islam dilarang mengikuti kaum-kaum nasrani dan yahudi, karena jika kita ikut merayakannya maka kita termasuk orang yang mengikuti agama mereka. Sebagai mahasiswa tidak perlu kaku-kaku, karena kita menebarkan kasih sayang tidak harus ke pacar. Sebab kita masih punya orang tua, oleh karenanya, berilah kasih sayang terutama kepada orang tua kita selama hidupnya,” pesannya.

 Anggara Purissta

Comments