News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

Oktober Sebagai Bulan Bahasa, Mahasiswa Berikan Tanggapannya

diposting pada tanggal 9 Okt 2017 13.33 oleh Radio RDK UIN Jakarta

Dimaknai sebagai bulan bahasa, kehadiran Oktober menjadi begitu berserjarah bagi bangsa Indonesia. Pasalnya, di bulan ini telah lahir ikrar sumpah yang menjadi alat pemersatu negeri ini, yakni “Sumpah Pemuda”. Dengan semangat persatuan yang tinggi, pemuda Indonesia berkumpul dalam Kongres Pemuda II, pada 28 Oktober 1928. Di hari itu, Mohammad Yamin, dan seluruh kaum muda, baik dari Jong Celebes, Jong Java, Jong Sumateranen Bond, dan organisasi pemuda kedaerahan lainnya, turut menghadiri kongres tersebut. Disinilah, ikrar itu terucap, bersamaan dengan pertama kalinya lagu Indonesia Raya dikumandangkan oleh W.R Supratman. Salah satu isi sumpah tersebut berbunyi, “Kami Poetra dan Poetri Indonesia Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia,” dan inilah yang menjadi cikal bakal Oktober disebut sebagai Bulan Bahasa.

Menanggapi hal tersebut, anggota muda Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Bahasa Foreign Language Association (FLAT), Dziky Kurniawan mengemukakan tanggapannya.

“Bagi saya, Bulan Bahasa itu bukan sekadar hari lahirnya bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Namun lebih dari itu, Bulan Bahasa menjadi pengingat bagi siapapun, tak terkecuali saya, bahwa ada perjuangan luar biasa yang dilalui, sebelum bulan ini dinobatkan sebagai Bulan Bahasa. Itu sih, arti Bulan Bahasa menurut saya,” ungkapnya.

Tak sampai di situ, ia mengaku tak sulit sebenarnya memaknai bulan kelahiran bahasa Indonesia ini, yakni dengan terus mempelajari bahasa Indonesia dengan baik, serta tidak mempermainkan penggunaannya, sudah cukup menjaga keberlangsungan bahasa Indonesia itu sendiri. Kendati menurutnya, tak sedikit anak muda yang merasa hal tersebut sulit untuk dilakukan, namun masih banyak di antara mereka yang tetap mengikuti kajian-kajian kesusastraan seperti mempelajari puisi, cerita pendek (cerpen) dan lain sebagainya. “Saya berharap, agar semakin banyak anak muda, umumnya masyarakat Indonesia, yang tetap peduli dan bangga akan penggunaan bahasa Indonesia. Serta tidak menutup diri dari kesempatan untuk mempelajari bahasa asing, di samping mempelajari bahasa Ibu Pertiwi ini,” harap Dziky.

Sementara itu, mahasiswa semester tiga, jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) bernama Fariz Nugraha, mengungkapkan dirinya sebagai penikmat sastra sangatlah menjunjung tinggi penggunaan bahasa Indonesia. 

“Menurut saya, bahasa Indonesia memiliki kosakata yang beragam, dan tak sedikit yang mempunyai makna cukup dalam, dan hal itu saya manfaatkan dengan cara membuat bait-bait sajak,” ungkapnya. Lelaki yang menyukai tulisan Chairil Anwar ini berharap, agar penggunaan bahasa Indonesia dapat terus dimanfaatkan oleh anak muda dalam mengekspresikan diri, baik secara lisan yaitu dengan bertutur kata yang baik, maupun secara tulisan yaitu dengan syair, sajak, opini, dan lain-lain.

(Faizah Fitriah)

Comments