News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

Pelaksanaan Wisuda Bagi Mahasantri UIN Jakarta

diposting pada tanggal 8 Jun 2017 13.40 oleh Radio RDK UIN Jakarta
Penghuni Mabna Syaikh Abdul Karim sebagai salah satu  yang akan mengikuti kegiatan wisuda

Kampus UIN Jakarta sebagai universitas negeri di Indonesia berbasis Islam, sudah sepatutnya menjunjung tinggi nilai-nilai Islam. Banyak sekali implementasi kegiatan-kegiatan keislaman yang dilaksanakan kampus UIN Jakarta, salah satunya adalah pesantren mahasiswa. Pesantren mahasiswa atau kerap disebut mahasantri, mengadopsi sistem pesantren-pesantren namun disesuaikan dengan kondisi mahasiswa. Para mahasantri tinggal di sebuah asrama atau mabna. Mabna setiap harinya melakukan kegiatan-kegiatan layaknya pesantren seperti salat berjamaah, pembinaan malam, hingga tadarus Al-Qur’an. Setelah setahun para mahasantri melaksanakan kewajibannya di mabna, diadakan sebuah wisuda sebagai kegiatan simbolis kelulusan para mahasantri. Wisuda tersebut akan dilaksanakan pada Senin (12/6) malam di Auditorium Harun Nasution.

Berdasarkan hal itu, salah satu pengurus Organisasi Mahasantri Mabna (OMM) Syaikh Abdul Karim, Yusuf Effendi berpendapat, kegiatan tersebut sangat baik dan bermanfaat sebab mengapresiasi perjuangan para mahasantri selama setahun bertempat tinggal di mabna. Karena, kegiatan-kegiatan mabna yang dianggap mudah oleh orang banyak nyatanya masih banyak yang sulit menjalankannya. Maka dari itu, tambah lelaki yang juga menjadi bendahara ini, terdapat mahasantri-mahasantri yang tidak dapat mengikuti kegiatan wisuda. Kebijakan tersebut bukan tanpa alasan, tetapi menjadi hasil akhir bagi mahasantri-mahasantri yang kurang taat aturan, bandel, serta jarang mengikuti pembinaan.

“Kalau semuanya diberi kesempatan untuk mengikuti wisuda, nanti mabna akan menjadi tempat yang tidak akan pernah berkembang,” jelasnya.

Pernyataan juga terlontar oleh salah satu penghuni mabna, Arifin Siregar. Masih mengenai mahasantri yang tidak seluruhnya dapat mengikuti wisuda, menurutnya nanti para calon penghuni mabna tahun-tahun selanjutnya akan memberi dampak seperti sifat bandel.

“Mereka nanti akan menganggap kalau mabna itu tidak ada aturan yang ketat dan menjadikan hukuman-hukuman yang ada hanya sebuah gertakan,” kata Arifin.

Terlepas dari hal itu, Arifin sangat berharap acaranya akan berjalan dengan lancar, mahasantri baik yang di wisuda maupun yang tidak tetap semangat, dan tidak lupa dengan pengalaman yang pernah ditempuh bersama selama setahun.

(Fathur Alfarizi)

Comments