News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

Perasaan Cinta dalam Islam

diposting pada tanggal 20 Jul 2017 08.56 oleh Radio RDK UIN Jakarta
Manusia memiliki perasaan yang menempel pada hatinya. Perasaan tersebut berupa batin yang tidak dapat lepas meskipun dipaksakan. Maka, perasaan menyukai seseorang seyogyanya adalah hal yang wajar dan sudah menjadi sesuatu yang lumrah bagi orang banyak. Namun, bagaimana menyikapi perasaan tersebut yang sangat sensitif jika dihubungkan dengan keagamaan?

Berdasarkan hal tersebut, salah satu dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Soleh Hasan, Lc., M.A., mengungkapkan, perasaan mencintai seseorang atau menyukai sebenarnya adalah hal yang wajar. Sebab, itu adalah salah satu nikmat manusia yang diberikan oleh sang pencipta. Hal itu sudah dituliskan di dalam al-qur’an pada surat Al-imran ayat 14. “Mencintai adalah fitrah manusia dan fitrah itu tidak dapat dilarang, apalagi masa-masa remaja dan masa berkuliah banyak sekali aspek-aspek yang dapat membuat manusia menyukai seseorang,” tuturmya. Dirinya mengenang, pada zaman-zaman berkuliah dahulu dia menyukai teman perempuannya yang kebetulan juga merupakan mahasiswi di fakultas yang sama. Sekarang, teman yang pernah disukainya dahulu telah menjadi istrinya. Menurut Soleh, itu menandakan bahwa perasaan dapat timbul kapan saja dan di mana saja. “Tetapi, yang menjadi problematika sekarang bagi anak-anak muda adalah tidak dapat membedakan mana yang namanya cinta dan mana yang namanya nafsu, sehingga tradisi berpacaran yang sudah menjamur di kalangan anak muda sudah identik dengan hal-hal yang tidak baik,” tegasnya.

Selain itu, tanggapan juga dilontarkan oleh mahasiswa FITK jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS) semester 4. Mahasiswa bernama Robby Firmansyah atau kerap disapa Obi tersebut mengatakan, terkadang teman yang disukai dapat menambah semangat dan motivasi. “Karena terdapat sesuatu yang bisa mendorong semangat belajar, semangat bekerja dan lainnya, hanya saja orang-orang harus bisa menjaga dirinya karena nafsu sangat erat keberadaannya,” tutur Obi.
Fathur Alfarizi
Comments