News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

Perempuan Dalam Pembangunan Indonesia

diposting pada tanggal 30 Jul 2017 05.58 oleh Radio RDK UIN Jakarta
Suasana kelas gender di Ruang Sidang Umum lantai 2 Gedung Rektorat

Sadar akan peran  perempuan yang makin hari makin punya andil dalam pembangunan bangsa, Kamis (27/7), kelas rutin gender dan anak yang dipelopori oleh pusat studi gender dan anak UIN Jakarta, mengupas tuntas peran gender dalam pembangunan Indonesia. Mendatangkan Prof. Dr. Ir. Aida Vitayala S Hubeis sebagai pembicara, kelas gender dan anak berlangsung sejak pukul 13.00 di Ruang sidang umum lantai 2 Gedung Rektorat UIN Jakarta.

Prof. Dr. Ir. Aida Vitayala S Hubeis memaparkan, tujuan dari pembangunan salah satunya adalah keberdayaan perempuan, yaitu situasi dimana perempuan mampu menikmati ‘kebebasan memilih’ untuk mandiri dan mengembangkan diri. “Atau sama dengan kesetaraan akses terhadap sumber daya di ranah domestik atau publik, memperoleh kesempatan dan kekuasaan, memperoleh dan menikmati manfaat dari pembangunan,” tuturnya. Guru besar Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor (IPB) ini menambahkan, beberapa wujud aksi pemerintah dalam memberdayakan perempuan dalam pembangunan dapat dilihat dari hadirnya kantor pemberdayaan perempuan pada tiap-tiap daerah, serta menganggarkan pemberdayaan perempuan sebagai program kerja yang serius. Aida juga menjelaskan, soal pebagian tugas antara suami dan istri dalam sebuah rumah tangga, seringkali dibentuk dari kebiasaan dan budaya. “Kegiatan masak dan membersihkan rumah dianggap sebagai tugas perempuan, yang bila dilakukan oleh laki-laki seringkali menjadi bahan omongan seakan-akan hal tersebut tidak lazim,” ungkap Aida. Bagi Aida, hal seperti ini dapat dikelola demi memaksimalkan peran perempuan dalam berkarir dan menjadi bagian dari pembangunan bangsa, yang terpenting adalah komunikasi keluarga yang efektif dikembangkan dan dimantapkan tutupnya.

Salah satu peserta kelas gender dan anak, Wati memaparkan sedikit pandangannya tentang peran perempuan dalam pembangunan, menurutnya, perempuan sudah cukup mendapat tempat dan perhatian khususnya kesempatan dalam mendapatkan pekerjaan. “Namun, yang amat disayangkan adalah rule serta ketentuan yang telah ditetapkan seringkali kurang dalam pengawasan dan pengaplikasiannya, sehingga peran perempuan dalam pembangunan masih terasa dibatasi dan kurang maksimal,” jelas Wati.

Syarifatul Adibah

Comments