News‎ > ‎Berita Kampus‎ > ‎

Peringati Hari Perempuan Internasional, Dema Fisip Adakan Diskusi

diposting pada tanggal 8 Mar 2017 16.42 oleh Radio RDK UIN Jakarta

Memperingati Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada 8 Maret kemarin, Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) menyelenggarakan diskusi publik yang bertajuk “Peran Perempuan di Bidang Politik dan Masa Depan Demokrasi Indonesia”. Acara tersebut digelar di Aula Madya Fisip pukul 10.00-13.00 WIB. Terdapat tiga narasumber penting yaitu ketua Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia (YPPI) Drs. Ade Fitria Kirana, SH, Direktur eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini, MH, Wakil ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta Mery Hotman, SH dan keynote speaker dari Walikota Tangerang Selatan Hj. Airin Rachmi Diany SH., MH. Namun, Mery Hotman berhalangan hadir karena terdapat rapat mendadak.

Ketua pelaksana diskusi publik, Desty Sunjani mengatakan bahwa diskusi publik ini diselenggarakan Dema Fisip selain untuk memperingati Hari Perempuan Internasional, juga sebagai bentuk dukungan terhadap kaum perempuan. Sebab menurut Desty, Indoneisa masih kental dengan budaya patriarki. “Kaum perempuan masih dianggap sebagai orang yang seharusnya bekerja hanya di dapur atau mengurus rumah tangga. Maka, materi yang dibawakan pada diskusi ini sangat relevan yakni bagaimana kaum perempuan dapat terjun ke dunia publik dan berpolitik, yang identik dengan dunia kaum laki-laki,” paparnya.

Menurut Desty, masih banyak orang yang beranggapan jika perempuan menjadi pemimpin maka yang dipimpinnya akan terbengkalai. Padahal pada hakikatnya laki-laki dan perempuan itu sederajat, namun perlu diingat bahwa perempuan jangan sampai melupakan kodratnya sebagai istri dan ibu bagi anaknya.

Pernyataan serupa juga dilontarkan oleh Ketua Departemen Kajian Strategi dan Advokasi, Muhammad Hanif Al-maksum. Hanif mengatakan, diadakannya diskusi publik ini karena perempuan yang sering dijadikan objek sumur, dapur, dan kasur. Padahal, perempuan juga memiliki hak yang setara dengan laki-laki. Menurutnya, kaum perempuan juga sangat minim dalam mendapatkan akses di ruang publik dan politik. Hanif beranggapan, perempuan juga berhak berprestasi dan berkreasi layaknya laki-laki, serta diberikan apresiasi dan dihargai oleh orang.

Terkait kegiatan lain Dema Fisip seputar pemberdayaan perempuan, Hanif mengatakan terdapat kajian-kajian dan diskusi kecil yang membahas tentang feminisme, hak-hak perempuan, dan lainnya. “Harapannya setelah diselenggarakannya diskusi publik mengenai kaum perempuan ini, dapat menghilangkan pandangan dan stereotip tentang perempuan yang selama ini tertanam di masyarakat,” tutup lelaki berkacamata tersebut.

(Fathur Alfarizi)

Comments