News‎ > ‎

Berita Nasional



Bendungan Katulampa Siaga Satu, Jakarta Waspada Banjir

diposting pada tanggal 6 Feb 2018 13.21 oleh Radio RDK UIN Jakarta   [ diperbarui6 Feb 2018 13.23 ]

Hujan yang mengguyur wilayah Bogor sejak Minggu malam (4/2), membuat ketinggian air di Bendungan Katulampa terus naik. Ketinggian air di bendungan ini sudah sampai di titik 240 cm, dengan ini diperkirakan Jakarta akan terkena dampaknya dan seluruh warga, khususnya yang berada di Bantaran Ciliwung di sepanjang Bogor hingga Jakarta, diminta untuk waspada terkait adanya luapan air sungai.

Dilansir dari CNN Indonesia, air Bendungan Katulampa Bogor diperkirakan akan tiba di Ibukota dalam kurun waktu sembilan jam. Kepala Pusat Data dan Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, banjir diprediksi akan terjadi di beberapa wilayah. Ia mengimbau warga di Bantaran Ciliwung untuk tidak beraktivitas di pinggir sungai. Kawasan di jakarta yang diperkirakan akan diterjang luapan air adalah Srengseng Sawah, Rawajati, Kalibata, Pengadegan, Pejaten Timur, Kebon Baru, Bukit Duri, Balekambang, Cililitan, Bidara Cina dan Kampung Melayu. Namun diprediksi, banjir tidak akan besar dan meluas karena hujan tidak merata. “Sampai saat ini sungai-sungai lain di wilayah jakarta masih level normal atau aman seperti Kali Krukut, Kali Cipinang, Kali Sunter, Kali Karet dan Kali Pesanggrahan,” jelasnya. Sutopo menyampaikan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor dan BPBD DKI Jakarta telah menyebarkan informasi peringatan dini banjir kepada masyarakat, aparat lurah dan kecamatan. “Peralatan, logistik dan personil sudah disiapkan untuk melakukan antisipasi banjir,” tutupnya.
Konsultan Kehutanan dan Lingkungan, Wawan Nurmawan  mengatakan, Bendungan Katulampa berperan sebagai indikator terjadinya banjir kiriman dari Bogor ke Jakarta. “Sehingga sudah seharusnya masyarakat yang tinggal di wilayah sekitar berperan aktif menjaga lingkungannya karena keadaan bendungan ini akan berdampak besar bagi Jakarta dan sekitarnya,” ujarnya. Konsultan yang juga merupakan dosen tetap di Universitas Sam Ratulangi ini juga berpesan untuk masyarakat yang tinggal di bantaran sungai, agar mengikuti saran pemerintah  yaitu pindah ke tempat yang lebih tinggi agar terhindar dari banjir.

(Galuh Alisha Yasmine)

Kekerasan Terhadap Guru, Pengaruh Lingkungan Jadi Faktor Pemicu?

diposting pada tanggal 6 Feb 2018 12.56 oleh Radio RDK UIN Jakarta

Kemajuan sebuah bangsa ditentukan oleh kualitas pendidiknya. Tanpa figur pendidik, tidak mustahil bangsa besar seperti Indonesia kesulitan menikmati hasil jerih payah putra-putri nusantara. Interaksi yang terjadi antara pendidik dan anak didik tidak dapat dipungkiri berdampak cukup signifikan bagi proses perkembangan anak didik. Namun berkaca pada realita yang terjadi saat ini, banyak terjadi kesalahpahaman antara pendidik dan anak didik, yang malangnya berdampak sangat fatal.

Melansir dari Tribunnews.com, Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) meminta aparat penegak hukum menaruh perhatian besar pada penyebab kematian guru kesenian SMA Negeri 1 Torjun, Sampang, Madura, bernama Ahmad Budi Cahyono. Kejadian di luar batas kewajaran itu harus menjadi perhatian publik, untuk memberikan efek jera bagi siswa yang berpotensi melakukan tindak kekerasan di lingkungan sekolah dan luar sekolah. Siswa yang melakukan penganiayaan wajib diproses hukum sesuai Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA).

Mahasiswa Fakultas Psikologi (Fpsi), semester dua, Kelvin Haiqal  mengatakan, ada banyak faktor yang bisa menyebabkan seorang anak didik berani memukul gurunya, di antaranya seperti pengaruh lingkungan yang keras, terlalu menjunjung harga diri, serta kurang mengenal rasa takut dan mengalah. “Lingkungan pertama yang dihadapi seorang anak adalah keluarga. Jadi kembali lagi kepada hubungan orangtua dan anak di rumah. Besar harapan saya kepada orangtua di rumah, agar bisa memberi perhatian yang lebih kepada anaknya dan menciptakan suasana kekeluargaan yang humoris dan terbuka,” harap Kelvin.

 (Galuh Alisha Yasmine)

“Super Blue Blood Moon” Fenomena Langka Hiasi Langit Indonesia

diposting pada tanggal 1 Feb 2018 16.48 oleh Radio RDK UIN Jakarta

Fenomena alam yang sangat langka, yaitu Super Blue Blood Moon telah berhasil menghias langit Indonesia pada Rabu (31/1). Fenomena ini hanya terjadi sekitar 152 tahun sekali. Lokasi di Jakarta yang ideal dan banyak dikunjungi oleh masyarakat untuk menikmati fenomena ini yaitu di Planetarium Taman Ismail Marzuki (TIM), Perkampungan Budaya Setu Babakan, Taman Fatahillah Kota Tua, Kepulauan Seribu, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan Taman Impian Jaya Ancol. Fenomena ini terjadi mulai 17.59 sampai 22.08 WIB.

Dilansir dari Metrotvnews.com, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Darmawanti mengatakan, masyarakat dapat menyaksikan fenomena ini dan bukan dijadikan sesuatu yang menakutkan. Malah BMKG pun juga mengimbau masyarakat untuk mengajak masyarakat agar melakukan nonton bareng di daerah yang telah ditentukan. Namun Super Blue Bloood Moon sempat tidak terlihat jelas karena tertutup awan.

Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), jurusan Pendidikan Biologi semester dua, Azizahnur Shobiroh mengungkapkan, dirinya baru tahu kalau fenomena Super Blue Blood Moon sangat langka sebab terakhir terjadi pada 1866. Azizah dan temannya juga melakukan sholat khusuf di masjid terdekat. “Bahkan di masjid sangatlah penuh dengan masyarakat yang sangat antusias melaksanakan sholat khusuf,” ujarnya. Menurut Azizah, menikmati fenomena langka ini bisa dilakukan dengan berbagai cara mulai dari memotret lewat kamera ponsel atau melihat menggunakan teleskop. “Namun di saat gerhana bulan tersebut para muslim seharusnya melakukan sholat khusuf, karena ibadah ini sangatlah langka. Jangan sampai terlena dengan keadaan yang sangat meriah,” ucapnya.

(Alya Safira Azizah)

Becak Kembali Beroperasi, Masalah atau Solusi?

diposting pada tanggal 31 Jan 2018 12.56 oleh Radio RDK UIN Jakarta

Akhir Januari, Gubernur Daerah Khusus Ibukota D-K-I Jakarta, Anies Baswedan berencana membuat Peraturan Gubernur (Pergub), untuk mengatur operasional becak di kampung-kampung Jakarta. Alasannya adalah untuk memberikan rasa keadilan dan rasa keamanan bagi warga yang bekerja sebagai penarik becak. Selama ini penarik becak selalu berkutat dengan petugas Satuan Polisi (Satpol) Pamong Praja (PP) untuk bisa beroperasi walaupun di sekitar kampung-kampung. Namun seiring dengan beredarnya kebijakan ini, banyak bermunculan pro dan kontra di masyarakat.

Dilansir dari Kompas.com, Anies mengatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta masih mendata dan memastikan jumlah becak di Jakarta untuk mencegah masuknya becak-becak dari daerah lain. Pendataan dilakukan oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Jakarta bersama Seriat Becak Jakarta. Ia juga menegaskan, akan menindak becak-becak yang datang dari luar ibukota. Eks Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) ini juga memerintahkan Satpol PP untuk memantau dan melapor jika ada becak yang masuk  dari luar Jakarta.

Kepala Satpol PP DKI Jakarta, Yani Wahyu Purwoko memaparkan, pihaknya telah menghadang satu truk yang bermuatan becak yang akan masuk Jakarta. Truk diduga berasal dari Indramayu, Jawa Barat. Terdapat kurang lebih 50 becak yang diangkut truk tersebut. “Becak-becak dari luar harus disita karena melanggar Peraturan Daerah (Perda) No. 8 tahun 2007 tentang ketertiban umum. Untuk itu Satpol PP akan bekerja sama dengan Dishub untuk menjaga wilayah-wilayah perbatasan Jakarta guna mencegah masuknya becak-becak dari luar ibukota,” tegasnya.

Mahasiswa Fakultas Psikologi, jurusan Psikologi semester dua, Muhammad Farraby Azzarqi berpendapat, kebijakan yang membolehkan becak beroperasi kembali di Jakarta dirasa kurang arif, mengingat Jakarta sudah sangat padat. “Berbagai kendaraan sudah banyak di sini. Jakarta merupakan kota metropolitan yang masyarakatnya jarang menggunakan becak sebagai angkutan umum,” ungkapnya. Farraby barharap, agar pemerintah lebih bijaksana dan arif dalam membuat keputusan. “Penarik becak sebaiknya di edukasi lagi dan angkutan umum yang lain sebaiknya lebih diperbaiki lagi,” imbuhnya.

Berbeda dengan Farraby, mahasiswa Universitas Brawijaya (UB), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip), jurusan Ilmu Politik (Ilpol) semester dua, Briantama Rezvan Arshad mengaku setuju dengan peraturan tersebut. “Karena peraturan tersebut berppihak dengan rakyat kecil. Tentunya ini dibuat untuk membantu perekonomiannya agar bisa lebih baik. Masalah yang rumit ini pasti bisa dibuat solusinya,” tutur mahasiswa yang berasal dari Jakarta tersebut.

(Alya Safira Azizah)

Tragedi Wabah Campak dan Gizi Buruk Melanda Suku Asmat

diposting pada tanggal 28 Jan 2018 08.43 oleh Radio RDK UIN Jakarta

Suku Asmat alami penderitaan Campak dan Gizi Buruk

Indonesia lagi-lagi dilanda musibah. Belum selesai dengan persoalan wabah Difteri, kini kembali muncul persoalan baru, yaitu persoalan Campak dan Gizi Buruk Suku Asmat. Seperti yang diketahui, campak merupakan infeksi virus yang ditandai dengan munculnya ruam di seluruh tubuh dan bersifat sangat menular. Sedangkan gizi buruk adalah kondisi di mana tubuh mengalami kekurangan gizi dalam kurun waktu yang lama. Penyakit ini biasanya dialami karena tubuh tidak memperoleh asupan gizi yang cukup.

Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK), jurusan Kedokteran semester satu, Danu Pratama Lesmana menuturkan, tragedi ini seharusnya menjadi pelajaran bagi pemerintah dan khususnya masyarakat Indonesia. “Terjadinya wabah ini masyrakat harus bisa belajar bahwa hidup sehat dan menjaga kebersihan itu penting agar tubuh terhindar dari segala macam penyaki. Ini juga seharusnya pembelajaran bagi pemerintah agar pemerintah bisa lebih baik lagi dalam menyosialisasikan tentang pentingnya hidup sehat,” ungkapnya.

Mahasiswa FKIK, jurusan Kesehatan Masyarakat (Kesmas) semester satu, Muan Fadhilah menerangkan, seharusnya pemerintah memberikan pelayanan kesehatan yang cukup baik terhadap warga Suku Asmat. Ia juga menceritakan, awalnya pemerintah ingin memberikan pelayanan kesehatan terhadap Suku Asmat. Namun dengan kondisi yang tidak memungkinkan dan tidak adanya alat transportasi untuk menuju pemukiman Suku Asmat. Muan berpendapat, usul Presiden Jokowi untuk memindahkan warga Suku Asmat ke kota agar mendapat pelayanan kesehatan yang lebih mudah dan terjangkau tidak akan semudah itu. Pasalnya dari adat istiadat dan lain-lainnya sangat berbeda. “Seharusnya tingkat kepedulian pemerintah terhadap Suku Asmat harus ditingkatkan lagi, bayangkan saja jika keluarga kita adalah salah satu dari mereka, pasti sedih sekali,” katanya. Ia berpesan, agar pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia untuk bisa lebih peduli dengan kejadian seperti ini. “Tak lupa juga untuk menjaga kebersihan dan kesehatan, karena itu merupakan dua hal yang penting,” tutupnya.

(Anggara Purissta Putra)

Polisi Imbau Kembali, Belok Kiri Langsung Tidak Berlaku Lagi

diposting pada tanggal 28 Jan 2018 08.00 oleh Radio RDK UIN Jakarta

Papan imbauan yang dibuat terkait adanya peraturan baru - (source instagram @divisihumaspolri)

Kepolisian Republik Indonesia (Polri) kembali mengimbau masyarakat tentang peraturan belok kiri langsung sudah tidak berlaku lagi, terhitung sejak 24 Januari 2018.  Imbauan ini disebarkan lewat akun instagram @divisihumaspolri. Polri berharap agar masyarakat bisa mematuhi perturan yang ada, karena banyak dari pengendara bermotor yang langsung belok kiri ketika ada di persimpangan jalan.

Dalam unggahannya, pihak Polri mengatakan, sekarang belok kiri langsung sudah tidak berlaku lagi bagi pengendara motor atau mobil. Mulai sekarang, tidak langsung belok kiri ketika melewati persimpangan jalan, untuk itu perlu melihat terlebih dahulu ada rambu atau imbauan untuk langsung atau harus berhenti menungu lampu hijau menyala. Regulasi ini  diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia (RI)  Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sesuai Pasal 112 Ayat 3 yang berbunyi, pada persimpangan jalan yang dilengkapi alat pemindai isyrat lalu lintas, pengemudi kendaraan dilarang langsung belok kiri, kecuali ditentukan oleh rambu lalu lintas atau alat pemberi isyarat lalu lintas. Dalam postingan tersebut juga dijelaskan, Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993, Pasal 59 Ayat 3 yang berbunyi, pengemudi dapat langsung belok kiri pada setiap persimpangan jalan, kecuali ditentukan lain oleh rambu-rambu atau alat pemberi isyarat lalu lintas pengatur belok kiri. Polri menegaskan peraturan tersebut sudah tidak berlaku lagi.

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), jurusan Ekonomi Pembangunan (EP) semester satu, Mohammed Pratama Zamorano mengatakan, peraturan ini mungkin bisa menghemat waktu pengendara ke tempat tujuan. Menurutnya peraturan ini juga bisa menertibkan lalu lintas karena ketika berada di persimpangan jalan, maka tidak bisa langsung belok kiri, melainkan harus mengikuti rambu-rambu lalu lintas yang ada. “Semoga kepolisian dapat mengatur dan mengurai keadaan di jalan raya, sehingga dapat mengurangi jumlah kecelakaan. Saya juga berharap agar peraturan ini dijalankan secara efisien dan profesional,” ujarnya.

(Alya Safira Azizah)

MPR RI Langsungkan Bedah Buku “Literasi Politik dan Pelembagaan Pemilu”

diposting pada tanggal 23 Jan 2018 14.16 oleh Radio RDK UIN Jakarta   [ diperbarui23 Jan 2018 14.19 ]

Pembicara melakukan sesi foto bersama di Gedung MPR RI

Pemilu menjadi sesuatu yang krusial sebab merupakan tahap penentuan pemimpin suatu daerah, bahkan negara. Maka dari itu Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia (RI) mengadakan acara “Bedah Buku Literasi Politik dan Pelembagaan Pemilu” Selasa (23/1) di Perpustakaan MPR RI. Pembicara dalam acara ini yaitu DR. Marlinda Irwanty Poernomo S.E, M.Si, Profesor DR. Andi Faisal Bakti M.A, PhD dan DR. Gun Gun Heryanto M.Si.

Dalam pemaparannya, Profesor DR. Andi Faisal Bakti M.A, PhD yang merupakan Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta ini menyampaikan, buku “Literasi Politik dan Pelembagaan Pemilu”  ditulis bersama Yusri yang merupakan Dosen Universitas Pancasila dan dirancang oleh orang-orang berkompeten dalam bidang politik maupun komunikasi. “Buku ini merupakan hasil diskusi dan kajian teman-teman The Political Literacy Institute. Buku ini diterbitkan dengan menggunakan dana pribadi,” ujarnya. Ia melihat dari pendekatan institusi atau pelembagaan itu bekerja, di mana yang pertama yaitu teori status, yang kedua merupakan  teori pendirian, ketiga yaitu nilai-nilai, keempat community atau komunitas dan yang terakhir yaitu ideologi. Dirinya juga menyarankan pada mahasiswa untuk mau menulis serta terus belajar.

Mahasiswa Universitas Pancasila, Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) bernama Nadya Rizky Amalia mengatakan, acara literasi politik ini sangat bagus. Terlebih lagi menurutnya, mahasiswa yang hadir masih kurang pengetahuannya tentang dunia politik. “Jadi dengan diadakannya acara ini mahasiswa yang hadir menjadi lebih tahu dengan dunia politik. Ada banyak ilmu yang didapat dan juga saya jadi mengetahui literasi politik ditambah lagi mendapatkan informasi tentang keadaan politik saat ini,” ungkapnya. Wanita berambut panjang ini berharap agar masyarakat dapat lebih memahami tentang literasi politik dan masyarakat juga dapat lebih terbuka lagi untuk menerima informasi tentang pendidikan dunia politik.

(Muhammad Fajan Saputra)

Gempa Bumi Berkekuatan 6,5 SR Guncang Banten dan Sekitarnya

diposting pada tanggal 23 Jan 2018 13.49 oleh Radio RDK UIN Jakarta

Mahasiswa nampak berhamburan di depan gedung fakultas saat gempa berlangsung

Gempa bumi berkekuatan 6,5 SR melanda wilayah Banten dan sekitarnya pada pukul 13.35 WIB, kemarin Selasa (23/1). Gempa yang berpusat di 7,21 Lintang Selatan (LS) sampai 105,91 Bujur Timur (BT) ini terjadi di daerah barat daya Lebak, Banten dengan kedalaman 10 kilometer. Getaran akibat gempa tersebut juga dirasakan sampai daerah Jakarta, Tangerang dan Bekasi. Namun Badan Meteorologi Klimatalogi dan Geofisika (BMKG) mengatakan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

Dilansir dari akun Twitter resmi BMKG, @infobmkg menyampaikan bahwa gempa yang melanda Jakarta berpusat di Lebak, Banten dengan besar 6,4 magnitudo dan gempa tersebut tidak berpotensi menjadi tsunami.

Mahasiswa Fakultas  Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom), jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) semester tiga, Muhammad Marjan menceritakan kondisi saat terjadinya gempa. Dirinya saat itu sedang berada di Lantai 5 Gedung Fdikom lalu tiba-tiba gedung bergoyang dan banyak bermunculan suara dari keramaian. “Akhirnya saya beserta teman ikut dalam keramaian untuk mencari tempat yang lebih aman. Saya tidak panik saat gempa terjadi, karena sudah pernah merasakan situasi seperti ini sebelumnya,” terangnya.

(Anggara Purissta Putra)

Puspemkot Tangerang Luncurkan Lima Aplikasi Online

diposting pada tanggal 11 Jan 2018 16.33 oleh Radio RDK UIN Jakarta

Launching lima aplikasi online Tangerang
Sumber : Tangerangnews.com

Mengawali tahun 2018, rupanya menjadikan Pemerintah Kota Tangerang mengembangkan aplikasi yang dapat memudahkan masyarakat Tangerang dalam mengakses pelayanan. Melalui Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kamis (11/1) kemarin bertempat di ruang Tangerang Live Room, Puspemkot Tangerang resmi meluncurkan lima aplikasi berbasis online.

Dilansir dari Tangerangnews.com, Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Kadis Kominfo) Tabrani menuturkan bahwa kelima aplikasi tersebut adalah Perizininan online, E-Transort, Saba Kota, Mutasi Siswa, dan E-Audit. Tabrani menambahkan bahwa kelima aplikasi tersebut bagian dari upaya pemerintah Tangerang untuk mengembarkan Tangerang Smart City.

“Kami terus berupaya menjalankan pemerintahan yang baik, terutama dalam mewujudkan pelayanan prima yang paripurna bagi masyarakat,” ungkapnya.

Mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) yang bertempat tinggal di Tangerang Selatan, Muhammad Yusril Fajri Aradi mengatakan kelima aplikasi berbasis online tersebut sangat membantu dan memudahkan masyarakat untuk mengetahui tentang Kota Tangerang, seperti layanan transportasi hingga perizinan online yang berhak disampaikan warga ke Pemerintah Kota Tangerang, khususnya tentang pelayanan.

“Semoga aplikasi berbasis online dapat diakses oleh seluruh masyarakat Tangerang dari berbagai lapisan, dan tidak ada kendala yang sudah diuji coba. serta ada pengawasan dari tenaga ahli agar membantu masyarakat ketika aplikasi terjadi eror,” harap Yusril.

(Seli Nursolihat) 

Baru Beberapa Hari Diresmikan, Skytrain Soetta Alami Gangguan

diposting pada tanggal 8 Jan 2018 09.18 oleh Radio RDK UIN Jakarta

Skytrain moda transportasi baru menuju Bandara Soetta
Sumber : SINDOphoto

Baru dieresmikan di penghujung tahun 2017 lalu, Skytrain moda transportasi yang pembangunannya paling dikejar oleh pemerintah sepanjang 2017 kemarin sempat mogok saat sedang dioperasikan pada Minggu (7/01) pagi. Melansir dari Tribunnews.com moda transportasi antar terminal Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), tersebut mogok di tengah jalan saat sedang mengangkut penumpang ke terminal 1 bandara tersebut. Disinyalir penyebab mogok moda transportasi yang baru diresmikan ini terdapat pada gangguan listrik sehingga membuat mesin kereta berhenti. Operasional skytrain Bandara Soetta terhenti karena gangguan listrik sekitar pukul 09.45 WIB. Sekitar 30 penumpang dari dua trainset langsung dievakuasi pengelola. Penumpang diantarkan menuju terminal terdekat menggunakan jalur darurat. Penumpang kemudian dijemput menggunakan bus dan melanjutkan perjalanan dengan moda tersebut. Penumpang yang sempat panik tidak berani menghambur keluar karena skytrain melayang di atas ketinggian yang sangat membahayakan.

Menteri perhubungan Budi Karya Suma mengaku sudah berbicara dengan Direktur Utama PT Angakasa Pura II Muhammad Awaludin mengenai kejadian tersebut.

“Saya marah-marah tadi ke Pak Awal,” ujar Budi sembari tertawa saat di temui di Tanjung Priok Minggu (7/01).

Kepada Awaludin, Budi meminta agar perusahaan menerapkan standar operasi yang lebih baik lagi. Perusahaan juga menempatkan orang-orang terbaik untuk menangani skytrain. Budi mengatakan seluruh proses evakuasi diselesaikan dalam waktu 15 menit. Dirinya menambahkan, Angkasa Pura segera mengecek gangguan dan mendeteksi sumbernya di jaringan listrik.

Mahasiswa Kesejahteraan Sosial (Kessos) semester lima Ahmad Bahar memaparkan, sebagai moda transportasi yang tergolong baru dan asing dimata masyarakat, sosialisasi skytrain ini dirasa masih kurang. Seharusnya diberikan ulasan positif dan negatif dari penggunaan moda transportasi ini kepada masyarakat, sehingga ada upaya antisipasi.

“Untung penanganan dari pengelola berlangsung tanggap, dan tidak ada korban. Ke depannya pemerintah dan pengelola harus lebih matang dan siap terhadap kemajuan pembangunan yang terjadi di Indonesia, khususnya disektor transportasi,” papar Bahar.

Selain sosialisasi yang matang, menurut Bahar kualitas dari moda transportasi ini juga tak boleh kalah prima. Menurut Bahar, sebelum turun ke masyarakat setiap unsur dari skytrain ini harus benar-benar prima, baik jalur, badan kereta, fasilitas, administrasi, jaringan listrik, dan tenaga ahli.

“Untuk pembangunan fasilitas umum seperti ini, kesiapan harus datang dari berbagai unsur, moda transportasi, pemerintah, media publikasi, dan masyarakatnya sendiri, jangan norak!,” tutup Bahar.

(Syarifatul Adibah) 

1-10 of 46